10 February 2012

SALON

Membaca judul cerita ini, saya menebak Anda membayangkan suatu usaha jasa pelayanan potong rambut dan perawatan kecantikan yang juga ternyata menyediakan pelayanan "lebih", pelayanan seks. Bayangan Anda benar. Sering kita mendengar, salon-salon tertentu menyediakan pelayanan lebih ini di samping pelayanan standar mereka. Hanya salon yang mana diperlukan "referensi" dari orang yang telah mengalaminya. Salon-salon semacam itu tentu saja tidak terbuka menginformasikan pelayanan plus-nya itu. Informasi itu datangnya dari mulut ke kuping (bukan dari mulut ke mulut yang berarti: ciuman)Begitu juga saya. Setelah mendapatkan informasi bahwa salon "Sukma" jalan Sudirman 117 Bandung menyediakan pelayanan lebih, bersama seorang kawan saya mengunjunginya, siang hari. Informasi yang saya dapatkan adalah bahwa petugas salon itu umumnya bersedia "dipegang-pegang" dan bahkan mau meng-onani kita.

"Silakan duduk, Mas..", sambut seorang wanita setengah baya sambil tersenyum dan menunjukkan ruangan di mana kami berdua duduk. Di ruangan depan yang cukup luas itu berjajar kursi-kursi untuk potong rambut beserta perlengkapannya. Di sampingnya, terdapat ruang tamu tak begitu luas dan menjorok ke dalam agak tersembunyi. Di ruang tamu ada bar kecil dan berjajar sofa yang telah diduduki oleh sekitar 7 wanita muda. Kutebarkan pandanganku ke wanita-wanita muda itu. Ada yang lagi makan baso, ada yang merokok, memotong kukunya sendiri, yang bengong saja, dan ada yang sedang membaca majalah. Segera saja aku "mengevaluasi", 3 orang di antaranya menarik perhatianku karena tergolong cantik dan putih. Yang pertama, tinggi, putih dan cantik. Alis tebalnya dibiarkan lebat tak dikerik, kakinya panjang mulus dan rok mininya memperlihatkan sepasang paha yang berbulu lembut "berbaris" rapi, buah dada yang hanya sedikit menonjol tipe peragawati. Yang kedua, lebih putih, sama-sama mulus, pendek mungil dada sedang. Ketiga, sama putihnya dengan yang pertama, tingginya di antara keduanya, tak begitu cantik, dada menonjol mempesona dibalut baju ketat. Keempat orang sisanya tak perlu kuperhatikan, karena "di luar perhitungan".

Aku sedang menimbang-nimbang mana yang akan kupilih. Kalau ingin menikmati buah dada, jelas yang ketiga memenuhi syarat. Jika ingin paha dan kaki indah, tentu yang pertama. Kalau suka kulit yang betul-betul putih, pilih yang kedua. Kalau sudah memilih, terus gimana? Ruangan potong rambut itu terbuka, mana bisa pegang-pegang, apalagi diloco?
"Mau potong rambut, atau dirawat, Mas?" tanya wanita paruh baya tadi.
"Dirawat?" celetuk temanku.
"Iya..., rawat muka, biar bersih, halus. Ini perawatnya", jawabnya sambil menunjuk ke wanita-wanita muda itu. "Mau sama Susy, Ina, Euis, Tini, pilih aja" lanjutnya.
"Dirawatnya di situ?" aku membuka suara sambil menunjuk ke kursi cukur.
"Engga, di dalam ada ruang rawat", jawabnya.
Kembali kami terdiam menimbang. Mata kawanku sedang "meneliti" wanita ketiga. Rupanya dia suka buah dada.
"Mau sama Euis, Mas" kata wanita tadi kepada temanku. Si dada molek itu Euis namanya. Kawanku mengangguk.
"Yuk ke dalam. Antar dong Euis!" Mereka berdua beranjak, menyeberangi ruang depan menuju pintu di belakang.
"Mas sama siapa?" Aku menunjuk si "peragawati" yang ternyata Ina namanya. Aku penasaran ingin menikmati paha mulus berbulu halusnya.

Masuk pintu belakang itu kami belok kiri, terdapat ruang-ruang bersekat dengan pintu dari kain korden, mirip ruang panti pijat.
"Masuk Mas" sapa Ina.
Di ruangan yang tak luas itu terdapat satu kursi tinggi sepanjang dipan beralaskan jok busa warna hijau tua. Separuh panjang kursi itu berlipat menyudut ke atas, sehingga kalau aku rebahan di situ mirip rebahan di kursi-malas. Kemudian ada rak yang berisi peralatan salon, juga ada baskom. Ini adalah kunjungan pertamaku, jadi aku tak tahu mau ngapain atau diapain. Atau langsung serang saja? Jangan. Lihat situasi dulu.

"Sering ke sini, Mas?" tanya Ina sambil mempersiapkan peralatan membelakangiku. Sepasang kaki itu memang mulus.
"Baru kali ini" jawabku.
"Oh.., ya" katanya, masih membelakangiku. Walaupun tubuhnya tinggi langsing, Ina punya kelebihan lain, pantatnya. Tak begitu lebar, menonjol kebelakang, dan membulat. Ina mengambil "baju" dengan model seperti kimono warna hijau muda polos."Mas ganti pakai ini" perintahnya.
Aku melepas baju dan singletku sekaligus lalu memakai kimono. Ina membantuku. Alisnya yang tebal menambah cantiknya.
"Singletnya engga usah dilepas" katanya.
"Biarin aja, udah telanjur"
"Celananya dilepas juga, dalemnya engga, lho" perintah Ina lagi. Aku nurut saja. Tiba-tiba muncul isengku. CD-ku kupelorotkan juga, Ina tidak tahu kelakuanku ini. Dalam kondisi yang hanya mengenakan kimono dan berduaan di kamar dengan cewek, aku jadi terangsang. Penisku mulai bangun.
"Naik, Mas"
Bulatan pantat itu menggairahkan. Ina kupeluk dari belakang. Kutekan penisku di bulatan indah itu. Kini aku benar-benar tegang.
"eee..., disuruh naik malah..., kita rawat dulu", katanya sambil melepas pelukanku.

Aku telentang di kursi panjang. Ina berdiri di sisi bagian kepalaku mulai membersihkan mukaku dengan kapas. Posisi yang sulit untuk "kurangajar". Aku mulai mengutuki temanku pemberi info. Katanya bisa pegang-pegang dan diloco. Tadi coba kupeluk, ditolak. Tapi sempat juga sebelah tanganku menggapai pahanya.., halus..! Hanya sebentar, Ina langsung menepis tanganku. Tak mau diganggu selagi kerja. Mungkin nanti kalau rawat-merawatnya selesai, kataku dalam hati menghibur diri. Sekarang mukaku dilumuri dengan cream, lalu dibersihkan dengan air. Aku iseng lagi. Seolah tak sengaja, aku menyingkap kimonoku sehingga penis tegangku mencuat. Sekilas Ina memandang milikku itu.
"Iihh.., nakal..., ya", katanya sambil mencubit pipiku.
Aku bangkit setelah Ina selesai melap mukaku dengan handuk kecil. Kupikir sudah selesai.
"Entar dulu.., belum selesai.."
Kemudian mukaku dilumuri lagi dengan semacam krem tapi agak keras.
"Apa nih..", tanyaku
"Masker. Udah tunggu sampai kering dulu. Jangan gerak dulu Mas, juga jangan ngomong"
"Kenapa?"
"Supaya maskernya engga rusak. Tunggu sampai kering". Lalu tiba-tiba..
"Geser sono dikit, Mas", Aku menggeser dan Ina ikut naik, rebahan juga di sebelahku. Ini dia..., mulai..!

Dengan telentang dan kedua lututnya terlipat, kontan rok mininya tergeser menampakkan sepasang paha mulusnya dengan utuh. Kubelai pahanya. Kali ini Ina tak bereaksi menolak. Ah, halusnya bukan main. Paha mulus berbulu halus memang sedap untuk dielus. Sementara Ina terus mengoceh, aku tak mendengarkan. Konsentrasiku ke pahanya. Tangannya kuraih kutuntun ke penisku. Acuh aja ia meremas-remas penisku sambil terus bicara, seolah "tak terjadi apa-apa". Sementara aku sudah kelimpungan. Dari paha tanganku pindah ke dadanya. Dada yang kecil, apalagi dengan posisi telentang begini. Ina memakai gaun terusan yang pendek, dengan kancing di tengahnya sampai ke bawah. Kubuka 3 biji kancing teratasnya. Ina "mengizinkan". Tanganku menyusup kutangnya mencari-cari puting susunya. Bicaranya berhenti setelah aku meremasi dada dan memelintir putingnya. Tapi gaya tak acuhnya tetap saja, meskipun ujung jari-jariku merasakan puting itu mulai mengeras. Demikian juga ketika aku menggeser kutangnya ke atas sehingga sepasang buah dada putih mulus itu terbuka. Seolah tak terjadi apa-apa, padahal tangannya mulai mengocok penisku. Baru setelah aku bangkit hendak menindihnya, Ina berreaksi.

"Eehh, entar dulu. Ini belum kering", katanya menunjuk mukaku. Aku kembali telentang. Ina masih meneruskan "pekerjaan" di penisku. Tanganku yang di dadanya beralih ke bawah, menyingkap roknya lebih ke atas sehingga CD dan perutnya yang rata dan putih itu tampak. Kuusap perutnya, lalu geser kebawah tanganku menyusupi CD-nya. Amboi..., bulu-bulu itu lebat sekali! Dia tetap saja acuh, meskipun telunjukku telah menekan-nekan clitorisnya! Dia malah memegang-megang masker di mukaku sementara aku menggosoki "pintu" yang sedikit membasah."Udah kering..., bersihin dulu..", katanya sambil tak acuh menarik tanganku dari CD-nya.

Masker di mukaku dilepasnya perlahan. Bentuknya seperti plastik transparan. Dibilasnya lagi mukaku. Tiga kancing gaunnya masih terbuka. Kutangnya hanya menutupi sebelah dadanya sehingga mataku lebih jelas menikmati puting merah jambunya. Lalu mukaku dilap, dan selesai. Ina naik lagi. Kubuang kimonoku, dengan telanjang bulat aku menindih tubuhnya. Penisku tepat di selangkangannya, mulutku merayapi buah dadanya dan berhenti di puting untuk menyedot-nyedot.

Setelah puas mengeksplorasi dadanya, aku bangkit mermaksud melanjutkan membuka kancing gaunnya.
"Jangan..., engga boleh bugil".
"Saya 'kan udah bugil".
"Mas boleh. Kalau nanti ada inspeksi, saya bisa dipecat".
"Gimana dong..., saya pengin".
"Udah..., gini aja.., yuk saya keluarin", Ina bangkit meraih hand-body lotion. Aku disuruh telentang. Aku tahu maksudnya, tapi aku menolak. Aku ingin hubungan seks.
"Boleh aja..., asal saya engga bugil dan Mas pakai kondom".
"Iiyyaalah", apapun mau asal bisa masuk. Udah tegang begini.
"Mana kondomnya biar saya pakein.."
Inilah masalahnya. Niatnya tadi hanya mau pegang-pegang dan dikocok, Aku tidak bawa "perlengkapan"."Saya engga bawa, mintain sana deh.."
"Ngaco..., engga bisa dong, ketahuan gawat.."
"Minta temennya 'kan bisa"
"Engga bisa..., Mas. Di sini engga boleh gituan.."
"Engga usah pakai kondomlah.."
"Engga mau"

Akhirnya aku mengalah. Aku berbaring telentang. Ina menuangkan lotion ke tangannya, lalu mulai meng-onani penisku, sementara tanganku meremasi dadanya. Ina memang sudah ahli melakukan masturbasi. Tangannya trampil. Terkadang meremas, mengurut, mengocok pelan, mempercepat, pelan lagi. Aku merem-melek dibuatnya.., Sampai tiba saatnya.., aku menumpahkan maniku ke perutku sendiri...!Dengan cermat Ina membersihkan kelamin dan perutku dengan handuk basah.
"Makasih", katanya ketika aku menyelipkan uang yang lebih dari jumlah yang tertulis di bon.
"Datang lagi ya.., Mas..., jangan lupa kondomnya". Sambil keluar ruangan, tak lupa aku juga memberi uang kepada wanita paruh-baya penerima tamu itu."Jangan kapok..., ya Mas", sahutnya.
"Engga", mukaku menjadi betul-betul bersih.

Belum sampai seminggu aku kembali memasuki ruang tamu yang agak tersembunyi itu. Begitu melihatku, Ina langsung menghampiriku dan duduk di sebelahku rapat-rapat. Tangannya di atas pahaku, Aku merangkul bahunya.
"Dirawat lagi, Mas" ajak Ina, kemudian mulutnya mendekati kupingku, "Saya bawa kondom", bisiknya.
"Saya bawa juga".
"Hayooo..., bisik-bisik apa nih", sahut kawan-kawannya.
"Ada deh..", Sahut Ina.
"Kawannya mana Mas..", Kali ini aku memang datang sendirian.
"Ada. Entar lagi datang".

Singkat cerita, kembali mukaku dirawat Ina. Bedanya, kali ini Ina nurut saja ketika aku "mengganggunya", walaupun sambil kerja. Dan selama dirawat muka, penisku tegak terus. Plastik transparan sudah diangkat dari mukaku, Ina sudah berbaring di sampingku, pakaiannya masih lengkap. Aku melepas kimonoku, bugil. Lalu kuambil kondon dari saku celanaku di gantungan. Yang membuatku 'exciting' adalah, begitu aku sudah pegang kondom, masih telentang Ina langsung memelorotkan celana dalamnya. Hanya CD yang dilepas, lainnya masih komplit. Lalu diangkatnya roknya sedikit sampai ke perutnya saja. Bulu kelaminnya memang lebat. Segera saja jari-jariku menelusuri bulu-bulu lebat itu, terus ke bawah sampai ke pintu vaginanya, dan kugosok. Tanganku satu lagi sibuk menyingkap kutangnya. Sementara tangan Ina juga sibuk memasang kondom di penisku.

Saatnya tiba. Kubuka paha Ina lebar-lebar. Clitori merahnya jelas menonjol ke depan. Kutempatkan penisku yang sudah "berbaju" tepat di bawah tonjolan merah itu. Aku masuk. Agak susah juga, karena Ina belum basah rupanya. Maju mundur sebentar di sekitar pintu, lalu menusuk lagi. "Bleesss". Tekan lagi hingga seluruh batang penisku ditelannya. Berhubungan kelamin dengan memakai kondom ada plus-minusnya. Kekurangannya, sentuhan penis tak langsung ke dinding vagina berakibat "rasa" yang beda. Kelebihannya, bisa lebih lama, dan bebas penyakit. Vagina Ina sebetulnya "masih ada remnya". Yang membuatku kurang nyaman adalah bangku panjang itu. Ketika aku memperkuat pompaanku, bangku itu mulai "ribut", sehingga Ina menahanku khawatir kedengaran ke ruang sebelah. Goyangan pantat Inapun terbatas, khawatir bunyi. Untuk mengurangi bunyi, logikanya kita harus meminimalkan sentuhan badan kita pada bangku. Makanya, dengan kedua tanganku, kuangkat pantat Ina dan kumainkan kocokanku dengan setengah berlutut. Dengan cara begini ternyata tusukanku bisa lebih efektif. Yang kemudian membuatku "naik-naik ke puncak gunung", lalu terbang melayang... dan, sseerrr..., sseeerrr..., seerrr...

Ina dengan cekatan memberesiku. Dilepasnya kondom yang berisi dari penisku, kemudian dibungkusnya dengan tissu dan digenggamnya. Kemudian ia membenahi kutangnya, menutup kancing, dan segera Ina telah rapi kembali.
"Sebentar.., ya.., Mas, buang ini dulu", katanya sambil keluar ruangan dengan menggenggam tissu yang membungkus kondom berisi air maniku. Ina merapikan diri dengan cepat dan lalu keluar ruangan untuk menghilangkan kecurigaan teman-temannya tentang apa yang baru saja kami lakukan, walaupun ia belum mengenakan CD-nya!Aku telah menikmati pelayanan "plus"-nya. Harapanku hanya untuk pegang-pegang lalu di-onani, ternyata aku dapat lebih: hubungan seks.

Sewaktu aku sudah berberes dan hendak pulang, aku kemukakan komplainku kepada Ina tentang ketidaknyamanan jika berhubungan kelamin di atas bangku rawat muka ini.
"Lain kali Mas ambil saja ruang 'studio', di situ ada dipannya", katanya.
"Studio? apaan tuh?".
"Persis kamar aja, ada pintunya yang bisa dikunci, engga seperti ruang ini".
"Dimana?".
"Dari pintu tadi Mas belok kanan, kalau belok kiri kan ke sini", jelasnya.

Benar juga. Disayap kanan bangunan itu ada 2 kamar yang tertutup. Tapi ada yang lebih menarik perhatianku dibanding kamar-kamar itu. Seorang wanita cantik, sangat putih, agak pendek sedang duduk sendirian di sebelah kamar itu. Rok mininya demikian pendek serta cara duduknya dengan kaki menyilang mempertontonkan pahanya yang benar-benar putih dan mulus. Siapa dia? Dalam dua kali kunjunganku ini aku tak pernah melihat wanita cantik ini. Aku samperin si penerima tamu. Sambil memberi tip, aku tanyakan perihal si Cantik itu.
"Lia, namanya. Pengin kenalan? yuk".
"Kok tadi saya engga lihat".
"Dia datengnya emang suka agak sore".

Akupun kenalan sama Lia. Benar-benar cantik. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya indah. Kulitnya putih mulus. Sambil ngobrol berbasa-basi, mataku sering menatap pahanya. Diapun tahu kenakalan mataku ini, tapi acuh aja. Ingin aku langsung membawanya ke "studio", sayangnya aku tak punya waktu lagi.
"Oke Lia, entar saya ke sini lagi sama Lia, ya" kataku pamitan sambil menepuk pahanya. Haaluuus!
"Boleh. Ditunggu ya..?", sahutnya.

Melihat wajah dan mulusnya Lia ini, kupikir seharusnya Lia tidak kerja di sini. Dia lebih pantas sebagai foto model. Kekurangannya hanyalah tubuh Lia pendek, dan tak remaja lagi. Kutaksir umurnya sekitar 25 -28 tahun. Barangkali karena kedua faktor itulah makanya Lia "kerja" di sini...!Gimana ya "rasa"nya Lia?
Sayang sekali Anda tak bisa membuktikan kebenaran kisah nyata saya ini, karena Salon Sukma yang terletak di jalan Sudirman 117, Bandung ini sekarang telah tutup..!


TAMAT

SALES GIRL


Pagi ini aku duduk di depan rumah ketika tiba-tiba lewat di depanku Siska, seorang cewek yang bekerja sebagai penjual kosmetik di sebuah supermarket. Ia tersenyum manis melihatku, aku hanya bisa mengangguk saja ketika ia menyapaku. Padahal sebenarnya aku sangat tertarik sekali kepadanya. Siska benar-benar cewek yang seksi sekali, badannya tidak terlalu tinggi, tetapi kulitnya putih dan montok. Keberaniannya untuk memakai rok mini membuatku selalu ingin mengetahui apa yang ada di balik roknya yang sangat minim itu. Namun semuanya hanya menjadi lamunanku saja, karena selama ini kami hanya bertegur sapa di jalan saja. Namun saat ini, ketika isteriku tidak di rumah dan keadaan benar-benar sepi, keberanianku mendadak muncul.

Saat itu Siska yang sudah berjalan agak jauh melewati rumahku aku kejar dan aku panggil, dia menoleh. Mulanya dia agak ragu, namun ketika aku memanggilnya lagi, ia segera kembali dan mendatangiku. Di depan pintu pagar ia bertanya sopan.
"Ada apa Oom, kok tumben manggil".
Aku hanya tersenyum dan membalasnya, "Kamu mau masuk kerja ya, kok udah rapi jam berapa sih masuknya..., mampir dulu dong".
Saat itu memang dia sudah sangat rapi dan cantik sekali, wajahnya yang putih tidak terlalu kena make up namun justru memancarkan keseksiannya sebagai akibat dari rok mini serta blouse yang dipakainya. Dia tersenyum dan mengatakan kalau memang dia berangkat agak pagi karena mau mampir ke rumah temannya untuk suatu keperluan.

Aku mempersilakan dia masuk dan dia menurut saja, bahkan dia tanya, "Ibu dimana..., kok sepi..", Aku jawab dengan ringan kalau isteriku sedang keluar kota. Kulihat dia hanya mengangguk-angguk saja, kugiring dia duduk di teras samping rumahku yang lebar dan rimbun itu.
"Kita duduk di sini saja ya, biar santai, sambil saya ganti pakaian dulu". Dia segera duduk disofa sambil tangannya meraih majalah yang ada di situ. Aku jadi agak senang, karena majalah yang diraihnya itu adalah majalah porno yang aku dapat dari luar negeri. Di dalam aku segera mengganti piyamaku dengan kaos dan celana pendek tanpa celana dalam, karena aku berniat memanfaatkan saat ini untuk menikmati keseksiannya.

Ketika aku keluar, kulihat dia masih asyik memperhatikan majalah porno itu, dari belakang kuperhatikan gambar apa yang menjadi perhatiannya, ternyata gambar cewek yang sedang dijilati vaginanya. Dengan bergaya tidak tahu aku segera duduk di depannya.
Siska tertawa menyeringai sambil berkata: "Aduh Oom majalahnya kok serem sekali ya".
Aku tidak menanggapi, tetapi aku hanya tersenyum saja. Aku membuka omongan dengan menanyakan di mana dia bekerja sebenarnya, lalu produk apa saja yang kira-kira bisa aku pakai dari omong-omong itu aku tahu kalau dia bekerja di Sarinah dicounter kosmetik mahal untuk pria. Dalam sekejap aku sudah menghabiskan uang 800 ribu untuk memesan kosmetik pada dia. Siska sangat senang karena aku demikian boros membelanjakan uangku untuk kosmetik itu, entah disengaja entah tidak, duduknya mulai tidak rapi sehingga pahanya agak renggang. Saat itu aku sekilas melihat celana dalamnya yang berwarna kuning, penisku langsung bergetar karena pemandangan yang sekilas itu.

Ketika kurasakan sudah cukup aku membuat dia masuk dalam pengaruhku, akupun mulai melaksanakan jebakan yang aku rencanakan tadi.
"Siska, kamu suka berenang nggak?, Dia menjawab spontan.., suka sekali Oom kenapa ya?
Aku menjawab lagi, "Enggak Oom punya baju renang yang bagus sekali yang Oom beli di Amerika, tetapi Tante tidak berani memakainya, kamu mau ya?".
"Mau saja Oom, asalkan tante nggak marah kan?".

Aku segera mengambil pakaian renang yang aku maksudkan itu, memang aku pernah membeli beberapa baju renang yang seksi dan kuberikan kepada beberapa kenalanku yang berani memakainya, saat ini aku masih mempunyai beberapa buah dan kupilih yang paling seksi buat Siska. Meskipun pakaian renang ini bukan bikini, tetapi potongannya benar-benar akan membuat tubuh yang memakainya jadi menonjolkan keseksiannya.

Ketika kutunjukkan pada Siska, matanya berbinar-binar.., "Aduh Oom bagus sekali ya, tetapi ini pasti mahal sekali harganya".
Aku hanya mengangguk kataku, "Biar mahal kalau yang memakai pantas kan jadi tambah bagus. Kalau Siska nggak keberatan, Oom kepengen lihat Siska pakai pakaian renang ini mau kan?"

Siska pertamanya agak ragu-ragu mendengar tawaranku itu, tetapi akhirnya dia bertanya, dimana saya bisa ganti Oom. Di sini saja di ruang tamu, aku sengaja menunjuk ke dalam ruang tamuku.
"Oom tunggu disini ya", katanya. Aku hanya mengangguk dan Siska masuk ke ruang tamuku untuk mencoba pakaian renang itu. Aku menahan diriku untuk tidak masuk ke dalam melihat Siska ganti, karena aku kuatir dia lepas dari perangkapku itu. Dengan hati berdebar-debar aku menunggunya keluar, namun ternyata ia tidak kunjung keluar juga.

Tiba-tiba kudengar Siska memanggilku, "Oom, Oom ke sini saja Siska malu keluar". Aku tergesa-gesa masuk ke ruang tamuku. Kulihat pakaian Siska bergeletakan di lantai sementara tubuhnya sudah dibalut pakaian renang yang aku berikan itu. Benar-benar pas buat Siska, buah dadanya yang besar itu menggantung manja di balik pakaian renang itu dan dari samping sebagian buah dadanya menyembul keluar. Secara tiba-tiba Siska mengangkat kedua tangannya untuk membetulkan letak rambutnya yang kacau, saat itu aku melihat kerimbunan bulu ketiaknya. penisku langsung tegak penuh melihat ketiak Siska ini, Tetapi aku masih coba menahan nafsuku dulu, dengan tenang kutarik ia keluar ruang tamuku agar keluar keteras.

"Di sini lebih jelas Siska, kan pakaian renang memakainya di luar ruangan bukan di dalam". Ia hanya tertawa tetapi menurut saja ketika kutarik itu. Diluar kubiarkan ia berdiri sambil bersandar ditembok sementara mataku menatap keindahan tubuhnya yang hanya dilapisi pakaian renang itu. Ternyata pakaian renang itu tidak dapat menyembunyikan puting susunya yang tampak menonjol itu dan juga potongannya yang berani menyebabkan sebagian bulu kemaluan Siska yang hitam keriting itu keluar di sisi paha tanpa disadari oleh pemiliknya.
Aku tertawa sambil berkata, "Aduh Siska..., bulumu luar biasa ya..., sampai keluar semua tuh!". Siska agak terkejut dan melihat kearah yang kutunjuk, tangannya berusaha menutupi bagian itu tetapi aku segera mendekatinya dan kupegang bahunya sambil bertanya lagi.
"Memangnya lebat ya Sis kok sampai keluar semua.
Siska menjawab enteng juga, "Habis pakaian renangnya seksi sih jadi ya mestinya di cukur sedikit biar nggak keluar semua".
Aku bilang pada Siska, "Sudah Sis sana kamu ganti saja dengan pakaianmu sendiri".

Kalau tadi aku tidak mengikuti ketika Siska mencoba pakaian renang, saat ini aku ikut masuk dan menunggunya ganti.
Siska berkata, "Lho Oom kenapa kok di sini..., Oom keluar dulu dong Siska mau ganti", katanya manja.
Aku diam saja, "Sudahlah apa bedanya telanjang dengan pakai pakaian renang ini, toh Oom sudah bisa membayangkan di dalamnya".
Siska memang berani sambil menyeringai dia segera melepas pakaian renang itu semuanya sehingga tubuhnya jadi telanjang bulat. Mataku terbelalak melihat buah dadanya yang montok dan bulu vaginanya yang lebat itu, benar-benar di luar ukuran, super lebat dan gondrong.

Aku sudah tak tahan lagi dengan sigap aku berdiri dan mendekati Siska, kuremas payudaranya dan kucium bibirnya. Siska hanya pasrah saja, tanpa tunggu komando lagi celanaku langsung kulepaskan dan kusuruh Siska memegang penisku. Siska langsung menggenggamnya dengan halus, aku yang sudah bernafsu segera menarik Siska pelan-pelan ke sofa sambil tetap berciuman dan Siska masih menggenggam penisku. Ketika aku sudah berhasil duduk di sofa, kusuruh Siska duduk di pangkuanku dan kuselipkan penisku di bibir vaginanya. Dengan sekali tekan, penisku amblas di liang vagina Siska.

Ternyata Siska memang betul-betul sudah tidak perawan, tetapi vaginanya masih terasa seret..., mungkin masih jarang dipakai. Gerakan pantat Siska cepat sekali naik turun sementara ia mencium dan memelukku erat-erat. Kurasakan hangatnya liang vagina Siska yang masih peret itu, geseran buah dadanya di dadaku membuatku makin bernafsu. Merasakan ganasnya Siska yang menduduki penisku, aku kuatir kalau aku akan cepat ambrol, dengan tergesa gesa kudorong Siska sehingga ia berdiri dan terlepaslah penisku dari liang vaginanya.

Aku mendudukkan dia di atas sofa dan kuangkat kakinya keatas sehingga membuat vaginanya terkuak lebar dengan bibirnya yang berwarna merah muda sudah mulai berkilat oleh lendir dari vaginanya sendiri. Langsung saja lidahku menjilati clitoris Siska yang membengkak seperti kacang tanah itu. Siska menggeliat sambil merintih, bulu vaginanya yang lebat kusisihkan ke samping sehingga lidahku makin leluasa menyusuri tepi bibir vagina Siska untuk kemudian ujung lidahku kumasukkan ke liang vaginanya yang menganga itu. Siska betul-betul tidak tahan dengan jilatanku ini, tangannya meremas-remas payudaranya sendiri, sedang mulutnya merintih-rintih.

Ketika kulihat lendir vagina Siska sudah membanjir, aku berdiri untuk segera menyetubuhi Siska, saat itu tiba-tiba saja Siska menangkap penisku dan langsung di masukkannya ke dalam mulutnya, dihisapnya penisku kuat kuat. Kuluman Siska tidak terlalu nikmat, tetapi aku tertegun melihat Siska yang begitu rakus. Aku memuaskan mataku dengan pemandangan yang indah sekali buah dada Siska berjuntai montok dan kenyal sementara bibirnya yang dipulas lipstick tipis mengulum penisku. Tak tahan dengan semua ini segera kucabut penisku dari bibir Siska dan kudorong Siska hingga terbaring, pelan-pelan kuletakkan penisku di bibir vaginanya yang berbulu lebat itu, Siska membantuku dengan menyibakkan bulu vaginanya serta menguakkan vaginanya, pelan-pelan aku menusukkan penisku untuk merasakan liang vagina Siska yang hangat itu sampai akhirnya penisku mencapai dasar vagina Siska. Siska mengangkat kakinya tinggi tinggi dan pantatnya mulai diputar ke kiri dan berganti ke kanan. Aku tidak sempat merojokkan penisku, karena goyangan Siska yang alami membuat aku tidak mampu menahan rasa nikmat yang luar biasa ini, aku hanya mampu menghisap puting susunya sementara air maniku menyembur keluar oleh sedotan dan goyangan Siska itu. Aku tahu kalau Siska belum mencapai kepuasan, tetapi aku tidak peduli, yang penting aku puas dan aku sudah membayarnya.

Benar saja, setelah beberapa lama aku terhanyut oleh rasa nikmat yang diberikannya, Sisca segera mendorongku dan mengatakan kalau dia mau segera pergi, bahkan dia minta ijin padaku untuk mandi terlebih dahulu. Aku hanya mengiakan apa yang diminta Siska, rasanya aku masih terbius oleh semua ini. Satu kalimat yang aku pesankan pada Siska, sering-seringlah mampir, pasti ada bonus yang menarik untuknya bila selalu membuatku puas seperti pagi ini


TAMAT

KISAHKU

Umurku baru 21 tahun, masih muda kali ya, laki-laki, dan sekarang masih kuliah. Aku mau cerita sedikit tentang pengalamanku sama cewekku. Kata orang, aku tuh orangnya menarik, walaupun aku sendiri nggak merasa, dan yang bilang begitu nggak satu dua orang, tapi banyak dari teman-temanku. Bahkan ibuku sendiri juga bilang begitu, dan ibuku pernah bilang, "Pantas kamu disenengin banyak cewek." Ibuku tahu aku disenangi perempuan gara-gara setiap hari banyak saja yang menanyakanku via telepon.

Kisah ini terjadi dengan cewekku yang masa pacarannya paling lama (kira kira 3 tahunan). Kami pacaran dari kelas dua SMA. Dia sekelas sama aku di jurusan yang sama, fisika. Kami pacaran masih dalam batas-batas normal saja. Paling kissing sampai necking-lah maksimalnya. Nggak sampai petting apalagi senggama. Pasalnya aku sangat menghargai dia. Soalnya dia tuh kayaknya alim-alim begitu orangnya. Sudah begitu dia orangnya baik lagi. Kalau aku macam-macam, pasti diingatkan sama dia kalau aku lagi bikin salah. Hubungan yang begini bikin aku sama dia itu dekat sekali dan jadi seperti nggak terpisahkan. Jadinya pacaran aku sama dia jadi langgeng begitu. Setamat SMA, tahun 1995, aku ikut UMPTN dan dia juga. Syukur aku keterima di PTN, sudah gitu PTN-nya top lagi. Kalau nggak keterima, sudah, aku nggak bakalan bisa kuliah lagi. Orangtuaku pasti nggak kuat membiayaiku kuliah di universitas swasta. Kalau di negeri, masih kuatlah aku rasa. Tapi cewekku nih nggak diterima (pilihan universitasnya sama-sama yang aku pilih). Tapi dia itu keterima PMDK masuk universitas tanpa test di salah satu universitas di kotaku. Dianya nih, nggak mau masuk ke universitas itu, tapi dia malah mengambil D3 di univ tempat aku kuliah. Aku tanya kenapa, jawabnya dia nggak mau kepisah sama aku. Takut aku kesambar orang katanya. Akhirnya kami tinggal di kota yang sama, dimana kami nggak punya saudara di kota ini. jadinya kita di kota ini sama-sama dari bulan Agustus tahun itu 1995.

Aku yang selain UMPTN ini juga melamar ke beberapa yayasan yang katanya mau mengasih bea-siswa ke luar negeri. Buntutnya aku keterima di beberapa beasiswa (lagi untung kali aku, banyak yang mau menerima aku). Ada yang mau mengirimku ke Jepang, US, Europe (Belanda sama Inggris) dan Melbourne-Australia. Aku putuskan ngambil ke US saja, di tempatku kuliah sekarang ini. Cewekku pas dengar berita ini jadi senang campur sedih. Dia senang karena aku dapat bea-siswa, sedih karena pisah lagi sama dia (padahal dia sudah bela-belain ikut aku ke kota lain). Katanya lagi dia takut kehilangan aku, begitu.

Gara-gara itu, menjelang keberangkatanku selama kurang lebih empat bulan, kita selalu sama-sama dan kita itu jadi tambah lengket saja. Kemana-mana kita sama-sama. Kalau malam minggu saja, pasti bareng. Nah, kejadian yang aku anggap tidak pada tempatnya itu terjadi pada salah satu malam minggu. Malam minggu itu, kita lagi malas pergi pergi ceritanya. Sudah jam setengah delapan, ibu kost-nya mau pergi ke tempat saudaranya ibu kost itu. Sesudah itu yang di rumah, cuma ada dua orang teman kost-annya saja yang lain dari kita. Malas juga, kita jalan-jalan keluar sambil cari makanan.

Sekitar jam sembilan lewat, kita balik. Ternyata nggak ada orang lagi di rumah. Rumah kost-annya kosong. Nggak tahu, teman-teman kost-annya yang lain pada kemana. Bosan juga kali di rumah lama-lama. Aku antarkan dia sampai ke kamarnya, habis itu aku bilang kalau aku mau pulang dulu. Dia bilang, aku jangan pulang dulu, takut katanya. Aku sih nggak apa-apa saja pulang telat. Nah, aku temani saja dia. Kita ngobrol saja sampai kurang lebih setengah jam. Aku lihat dia agak mengantuk. Aku suruh tidur saja. Aku bilang, aku tungguin deh, sampai ada yang pulang. Dia-nya setuju. Aku tunggui dia sambil baca-baca di meja belajarnya. Selang beberapa menit, Dia manggilku, "Fer, sini bentar dong!" Oya, namaku Ferry dan dia Tessa. "Ada apa?" tanyaku tanpa menoleh. "Sini dong!" dia mulai merajuk. Baru aku menoleh, "Kenapa?" tanyaku. "Cium aku dong, sebelum aku tidur!" pintanya. Aku bergerak mendekat, kucium keningnya yang kata orang tanda sayang itu, lalu kucium bibirnya. Aku cium dia sambil duduk di pinggir ranjangnya yang lebarnya kurang lebih satu setengah meter itu. Dia membalas ciuman bibirku dengan sangat agresif, nggak cuma gitu, aku ditarik ke ranjangnya.

Aku pikir, "Setan apa yang lagi lewat di kepala cewekku ini, kok bisa ganas gini?" Sekarang posisiku sudah telentang ditindih badannya. Tindakannya nggak berhenti sampai di situ. Sekarang giliran kancing dan zip celanaku yang dibuka, dan tangannya sudah memegang barangku saja. Aku terkejut, karena sebelumnya kita belum pernah sampai ke tingkat segitu. Aku langsung lepaskan bibirku dan bertanya, "Ngapain kamu Ca?" Eca adalah panggilanku buat dia. "Nggak apa-apa kan Fer!" responnya. "Sekali saja, emang nggak boleh aku main sama kamu? kamu kan pacarku!" lanjutnya. Aku tambah terkejut lagi, "Eh, kamu sadar nggak, lagi ngomong apa?" tanyaku. "Aku sadar kok!" jawabnya. "Lalu..?" tanyaku. "Nggak apa-apa kan?" lanjutnya lagi. Aku tetap nggak kepingin, jadinya aku jawab, "Nanti saja lah! kan ada waktunya!" Dia menyerah dan akhirnya melepaskan aku. Lalu duduk di sisi lain ranjangnya sambil menghadap ke dinding kamarnya. Aku langsung membenari celanaku. Lalu aku dekati dia. Aku lihat air matanya mengalir. Aku langsung bingung. Terus terang, sebagai cowok kelemahanku disana. Aku nggak tahan melihat wanita menangis.

Kupeluk dia dan aku tanya, "Kenapa?" Dia lantas berbicara panjang lebar. Kurang lebih bicaranya begini, "Fer, kamu tau nggak, kalau aku tuh sayang banget sama kamu. Aku nggak pengen kehilangan kamu. Aku pengen kamu benar-benar jadi milikku. Aku tahu kalau buat kamu tuh nyari cewek tuh gampang banget. Aku tau kalau kamu mau, siapa saja mau jadi cewek kamu. Satu SMA, di SMA kita dulu, pada seneng sama kamu semua, dan aku yang dapat kamu. Makanya aku seneng benget. Soalnya sainganku dulu tuh dari yang terkaya, yang aku lihat dengan modal BMW-nya ngegaet kamu (emang pernah tejadi), sampai ke yang terpintar pun juga seneng sama kamu (juara umum sekolahku). Aku kan seneng benget dapat kamu, sampai aku berjanji kalau perawanku tuh cuma buat kamu doang, kamu nggak ngerti! aku tuh takut kalau kamu nanti sudah cabut ke US, kamu bakal lupa sama aku dan keinginanku jadi nggak kesampaian. kamu ngerti aku nggak sih Fer?" Tangisnya tambah keras saja.

Aku nggak tahan melihat dia menangis gitu, aku-nya jadi nggak bisa berpikir, akhirnya aku putuskan untuk menerima permintaannya. Aku jawab, "OK lah kalau kamu maunya begitu!" Dia agak tenang, lalu dia mencium bibirku lembut banget. Aku tanggapin. Kami berciuman saja beberapa menit, lalu pakaianku mulai dilucutinya, dan pakaiannya dilucutinya sendiri. Sekarang kami tinggal berpakaian dalam saja, dan Tessa sekarang sudah nggak pakai bra lagi, karena memang dia kalau tidur nggak pernah pakai bra kayaknya. Aku pikir nggak apa-apa lah, ini kesempatan buat praktek kali nih. Aku juga mulai bereaksi. Tanganku mulai mempermainkan payudaranya dan ciumanku mulai turun jadi necking. Setelah itu, mulutku malah mempermainkan pentil payudaranya yang masih rada-rada kecil. Asyik juga sih. Kayaknya dia menikmati banget, itu aku ambil kesimpulan dari dasahannya yang kayaknya gimana gitu, nggak bisa aku deskripsikan deh. Tanganku sekarang meloroti CD-nya, lalu aku mainkan vaginanya. Lalu tangannya juga meloroti CD-ku sambil memainkan barangku. Nggak lama kemudian vagina cewekku mulai basah. Dia-nya mulai ribut menyuruhku masukan punyaku. "Fer, masukin sekarang dong!" katanya. Aku ikuti saja. Aku coba memasukan penisku ke Vaginanya. Rada-rada sulit juga, padahal barangku nggak besar-besar amat, cuma kurang lebih 15 cm saja. Mungkin karena dia masih perawan kali ya. Setelah berusaha, dan dibantu dia juga, barangku masuk. Blesh... dia agak menjerit, lalu meringis kesakitan. Aku kira ada apa, kutahan gerakanku, padahal barangku baru masuk setengahnya. Aku bertanya,
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, terus saja!" katanya. Aku tanya,
"Sakit?"
"Ya!" jawabnya.
"Mau diterusin nggak?" tanya aku, soalnya aku kasihan melihat tampangnya.
."lanjutin katanya."OK lah!" kataku.

Gerakanku aku lanjutkan. Barangku masuk habis, aku tarik, dan aku masukan lagi, dan terus kukocok-kocokan kayak di BF itu. Kurang lebih lima menit, Si Tessa menjerit lagi sambil meregang-regang. Aku pikir, "Dia ini lagi ngapain nih?" kupikir kayaknya kalau di film BF kayak begitu itu tandanya lagi orgasme. Gerakanku aku hentikan. Aku biarkan dia orgasme sementara barangku masih di dalam. Barangku yang kayak dipijit-pijit gitu jadi nggak tahan juga kepingin keluar. Nggak sampai semenit setelah cewekku selesai orgasme, aku juga merasa mau orgasme. Cepat-cepat aku cabut barangku, aku orgasme di luar. Aku nggak mau ada hal apa-apa setelah kejadian ini. Setelah itu aku berbaring saja langsung disebelahnya. Baru aku berbaring, Cewekku bangun lagi, dan langsung memainkan barangku. "Sekali lagi ya Fer!" katanya. Aku senyum saja. Aku ladeni lagi dia. Pas ronde kedua ini, aku nggak banyak beraksi, sekalian posisiku yang di bawah. Setelah barangku cukup tegang, cewekku langsung saja memasukan lagi. Dia yang beraksi di atas pinggangku. Tanganku juga terus memainkan payudaranya. Untuk ronde kedua ini, aku mampu bertahan beberapa belas menit, dan cewekku orgasme sampai dua kali. Jam setengah sebelas kurang, kami selesai. Kita bersih-bersih, mandi, ganti spreinya. Dan kurang lebih jam sebelas, temannya pulang, lalu aku balik ke kost-anku.

Sekarang dia sudah nggak jadi cewekku lagi. Dia nggak tahan karena aku jarang sekali mengirim surat ke dia. Aku sibuk banget dengan kegiatanku. Aku kepingin juga sih menelepon dia, tapi nggak kuat biayanya. Disini (US) aku tinggal di asrama kampus yang banyaknya Asian students, karena asrama itu memang khusus buat foreign students. Banyak yang bisa aku jadikan cewekku, terutama yang dari dekat-dekat Indonesia seperti Malaysia, Singapore, dan Philipines. Banyak yang cakep tuh. Aku sudah pernah ditembak cewek Asia, cuma aku bilang saja aku nggak mau. Aku sudah takut saja kejadian kayak dulu terulang lagi. Soalnya aku takut nanti putus lagi. Aku putus sama Tessa saja aku sudah merasa bersalah, karena aku merasa aku sudah mengambil sesuatu yang sangat berharga dari dia. Itu jadi pengalaman pertama dan terakhirku. Tapi rasa bersalahku yang sudah mengambil perawan cewekku, sama melakukan yang dilarang agamaku, nggak hilang-hilang sampai sekarang.


TAMAT

ITA TEMAN BAIKKU


Sebenarnya aku rada risih buat menceritakan pengalamanku ini, bukan apa-apa soalnya aku bukan tergolong manusia yang jago cerita dan jago main seks. Tapi tidak apa, masa aku harus terima terus, sedangkan aku tidak pernah kasih.

Cerita ini terjadi pas sekali di hari ulang tahunku yang ke-24, Januari 2000. Aku punya teman perempuan namanya Ita, dia itu temanku dari semenjak kuliah, teman dekat tapi bukan pacar. Sebenarnya sih aku suka sekali sama dia, habis dia itu sudah banyak mewarnai hidupku, begitu juga aku. Tapi lantaran agama kita beda, ya apa boleh buat, akhirnya kita berteman saja (meskipun banyak teman-teman yang menyarankan supaya di coba dulu).

Hari Jum'at HP-ku berdering, pas kuangkat tidak tahunya Ita di seberang.
"Kamu dimana nih?" tanyanya.
"Aku di Kupang, baru besok balik ke Jakarta", balas aku.
"Ok deh, jam berapa kamu besok sampai di bandara?"
"Kira-kira jam 2 siang, ya kamu tahu lah, aku naik Merpati alias merana sampai mati, jadi tidak tentu datangnya", kataku."Ya sudah call aku kalau sudah sampai!""OK."

Besoknya pas aku sampai aku call dia, dia bilang besok dia ingin sekali bertemu sama aku, ingin merayakan HUT-ku. Ya sudah akhirnya kita janjian di BMGM, PI Mall jam setengah 7 malam. Kalau tidak salah pas hari Minggu. Pas ketemu Ita kasih ucapan selamat ulang tahun buat aku, "Met ulang tahun ya! Mudah-mudahan tidak lupa sama aku", katanya sambil mencium pipiku, biasa sun pipi doang. Memang cuma sebatas itu yang biasa kami lakukan. Terus kami makan sambil ngobrol ngalor-ngidul.
"Wan, aku ada unek-unek yang pengen banget aku obrolin sama kamu", katanya.
"Masalah apa sih Ta, kalau buat kamu aku pasti bantu", jawab aku.
"Iya aku tahu, tapi jangan di sini dong tidak enak buat ngobrol, entar kalau aku nangis gimana?" benar juga, dalam hatiku.

Sehabis makan kami pergi ke kafe, tapi karena suasana ramai sekali, akhirnya Ita mengajakku mencari tempat yang lebih nikmat buat ngobrol. Karena waktu itu kami berada di kawasan Blok M, maka kami pilih Hotel Am. Singkat cerita dia mengajak chek-in, "Enakan begini", kata Ita. O iya, waktu itu Ita pakai T-shirt ketat lengan panjang, warna gelap plus jeans ketat warna gelap juga. Jadi kontras deh sama warna kulitnya yang kuning langsat. Wajahnya biasa-biasa saja, tapi nafsuin banget, apa lagi bibirnya, wow sensual banget! Buah dadanya tidak besar-besar amat, hanya 34 B. Cuma karena dia rajin senam jadi itu body bikin horny.

Kira-kira sudah 1 i/2 jam ngobrol, ditengah-tengah suasana yang oke banget gitu, obrolan sedihnya semakin menjadi. Akhirnya dia sandarkan kepalanya di atas dadaku. Terus terang aku jadi ngembang, apa lagi kalau bukan kemaluanku. Dia rupanya merasa, karena siku tangannya sesekali menyentuh permukaan zipperku. Mulanya aku beranikan diri buat mengusap rambut dia pakai tangan kiri, sementara tangan kananku, aku pakai buat mengusap tangan kanannya. Lama-lama yang ada bukannya usapan, aku malah meremas tangannya. Dia malah balik meremas tanganku, "Wah lampu ijo nih", pikirku. Benar saja tidak lama mukanya yang tadinya menghadap depan jadi tengadah, kontan bibirnya yang sensual jadi rada merekah, aku tidak sia-siakan. Kukecup kecil sekali, setelah itu kulihat matanya masih merem, langsung saja kulumat habis, dalam banget, sampai dia rada gelagapan. 7 menit berselang tangan kananku beraksi di atas permukaan dadanya. Kuusap lembut buah dadanya. "Eenghh", dia mulai kedengeran erangannya. Dari apa yang pernah kubaca (memang aku rada kuno) kalau perempuan sudah kedengeran begitu tandanya dia sudah ON.

Mendengar erangannya, usapanku berubah jadi remasan. Aku remas dari mulai pelan sampai keras dan seterusnya bervariasi. Bibirku masih menempel ketat di bibirnya, dia yang duluan memainkan lidahnya di rongga mulutku, ya aku jabanin. Kuangkat bagian bawah T-shirtnya, dia kasih jalan. Begitu lepas terpampang di depan mataku gundukan buah dadanya yang di bungkus bra berenda warna hitam dan membuat aku semakin horny. Lumatan kami berlanjut lagi, semakin "Panas". Tidak puas cuma meremas dari luar kupeluk dia sambil kucari pengait bra dia di belakang. Kulepas, dan remesanku sekarang semakin gila. Lumatanku mulai menjalar ke seluruh mukanya, turun ke daerah sekitar kuping, aku gigit pelan daun kupingnya dan "Enghh..." kedengeran lagi dia mengerang. Jariku mulai "tunning" di pentilnya. Bibir dan lidahku terus turun, aku "hisap" seluruh bagian leher dan pundaknya, turun ke ketiaknya. Kugigit dan kutarik bulu ketiaknya yang memang lebat. "Uhh, Wannn... geliii", aku tidak peduli, terus dan terus. "Wan, angkat aku ke tempat tidur", pintanya. Lalu kuangkat.

Aku besarkan voltage dimmer. Hal ini menambah fantasiku karena aku bisa lebih jelas melihat lekuk tubuhnya. Aku naiki dia, kuserbu buah dadanya, "Kamu baru potong cambang ya, Ita geli bangeet... ah", erangya. Kujilat seluruh permukaan buah dadanya. "Putingnya dong!" dia protes. Sengaja aku tidak melumat putingnya, nunggu dia penasaran pikirku. Aku lumat, gigit-gigit kecil, dan kusedot dengan keras puting runcingnya yang berwarna pink dan sudah keras sekali. Dia angkat dadanya sampai membusung. "Aduh... kok nikmat banget sihh..." Lama aku main di situ, sesekali dia tekan dan jambak rambutku. Aku tetap main di situ sampai dia tekan kepalaku turun, aku ikuti, aku jilat dan kusedot pusernya, dia menggelinjang sambil tidak berhenti-henti mengerang. Kulepas ikat pinggangnya, aku turunkan zippernya. Tapi tidak langsung, kutarik turun jeansnya, aku balikan tubuhnya tengkurap, aku jilat habis bagian pundak sampai punggung. Dekat bagian ban celananya, baru aku turuni jeansnya sedikit demi sedikit sampai bagian pinggul dan CD berenda warna hitam yang sejenis sama branya kelihatan jelas. Aku remas pinggulnya sambil sesekali kugelitik pinggangnya. CD-nya kuturuni sedikit demi sedikit, jilatan dan lumatanku yang turun sampai ke telapak kakinya, "mmhh..."

Setelah jeans dan CD-nya lepas aku balikan tubuhnya. Aku emut jari-jari kakinya semua, dari mulai jempol sampai kelingking, terus naik, sampai akhirnya mukaku berhadapan sama tumpukan bulu yang... wah... pokoknya hutan pedalaman Kalimantan sama Irian LEWAT! Merumputlah aku di situ. Aku buka pahanya lebar-lebar, aku sibakan bulu kemaluannya. Terus kukecup bibir vaginanya. Pink warnanya, dan masih sempit, soal aroma jangan ditanya Ok banget. Kukeluarkan lidahku, kujilat seluruh permukaan bibir vaginanya luar dalam. Pas sampai clitoris, erangannya mulai berubah jadi teriakan, sambil menekan belakang kepalaku dan dia jepit kepalaku. Beberapa saat kemudian dia angkat pantatnya sambil menggoyang. "Ahh... mmhh... uhh... terusssinn wannn..." kemudian dia melenguh keras sambil menekan belakang kepalaku, dia jepit kepalaku, semenit kemudian dia terkulai. "Kamu hebat Wan... sabar dan telaten, thank's ya..." katanya. "Ah nggak juga, mungkin bakat kali Ta, sumpah baru pertama kali!" jawabku.

Lalu kami istirahat sebentar, aku mengambil rokok dan minum, sementara kemaluanku terus meronta, aku berusaha sabar. Ternyata yang tidak sabar justru Ita. "Sudah matiin rokoknya, kasian tuh anak kamu sudah pecah ketubannya pengen keluar", katanya bercanda. Dia yang bugil menyerbuku seperti Saddam Husein nyerbu Kuwait. Dia preteli kemejaku, jeansku, dan akhirnya CD-ku. Kontan kemaluanku yang memang dari tadi sudah meronta jadi lompat. Dia nafsu banget. Kemaluanku memang sedangan saja sih panjang 13 cm, tapi memang keras. Dia kocok, di tempeli ke ujung hidung, pipi dan akhirnya dia cium. Terus dia jilati dari kepala sampai ke bijiku. Tidak lama kepala penisku sudah ada di dalam mulutnya, dia hisap dalam sekali. "Aduhh Ta...!"
"Kenapa?" tanyanya.
"Ennnakkh..." jawabku. Ita semakin bersemangat, dia maju mundurkan mulutnya, kupegang kepalanya. 8 menit kemudian aku tahan kepalanya dan "Itttaa... aku kkeee... aahh..." aku tidak sanggup meneruskan omonganku, aku muncrat 5 kali di dalam mulutnya. Dia telan semua sampai tetes sperma penghabisan.

Sesudah itu kami ngobrol, agak lama sekitar 20-an menit dan sesudah badan kami segar, kami bertempur lagi. Setelah segalanya siap, kunaiki dia, dia pegang penisku, dia gesek-gesekan di atas permukaan vaginanya, geli banget! Habis bulu kemaluannya rimbun banget sih.
"Ya teken Wan pelan-pelan..." aku ikutin, seret!
"Ayo coba terus, pelan pelan", aku ikutin. Pas kepala penisku sudah kejepit, aku diam dulu, aku kiss bibirnya sambil tanganku terus beraksi di atas buah dadanya. Setelah kupikir ok, aku konsentrasi, aku tekan habis dan "Wannn... sakkith..." aku kaget. Aku berhenti dulu, terus kulumat lagi bibirnya. Setelah tenang 1/4 penisku aku masukan lagi, dia teriak lagi, kali ini aku sudah kesetanan. Aku masukan semua sisa penisku, Ita mengangkat kepalanya dan menggigit pundakku. "Enggghh", dia mengeluh. Aku istirahat dulu. Kuserbu buah dadanya, kulumat habis, kusedot, kucupang kencang sekali, sampai meninggalkan bekas. Pas aku mau kulum bibirnya dia taruh telunjuknya di bibirku. "Wan, Ita bahagia malam ini, ini kali pertama Ita bersetubuh, dan Ita bangga bisa ngasih keperawanan Ita sama orang yang Ita kagumi." Hancur hatiku mendengar si Ita ngomong kayak gitu, aku bengong!
"Sudah, ngapain bengong ayo terusin!" karena aku tidak bereaksi si Ita yang ambil inisiatif. Dia angkat pantat dan berhula-hula, lama-lama aku jadi mengikuti.
"Nnnaahh gitu donghh", aku maju-mundurin pantatku, selang sepuluh menit,
"Ithhaa mmaauuu nyampppee..."
"Tungguiiinn aku sebentarrr lagiii." Kami terus bertempur, tiga menit kemudian Ita jepit pinggangku sambil memelukku erat sekali. Dan aku pun menyodok dia tidak kalah kencangnya,
"Tttaa... aahh..."
"Wannnhh... ouuggghh", kami sampai bareng dan terkulai sesudahnya.

Itu adalah true story-ku, itu yang pertama dan mungkin yang terakhir aku main sama Ita, karena aku tidak mau merusak dia, aku sama dia memang bukan jenis manusia rusak.


TAMAT

PEMBANTU BARU

Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini. Kupanggil Marni pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali "bertempur" dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku. Namun agak lama juga Marni tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Marni sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu.

Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, "Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!".
Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, "Maaf Pak, Mbak Marni masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?".
Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali. Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu.

Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja. Ternyata dia adalah famili Marni dari Kerawang namanya Neneng dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Marni. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Marni, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Neneng, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Neneng sambil berkata "Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!".

Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Neneng sehingga Neneng dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Neneng yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Neneng menceriterakan tentang dirinya.

Ternyata Neneng seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu.
Aku berkata kepadanya, "Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!". Neneng tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Neneng sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku. Aku jadi tegang dengan gosokan Neneng ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Neneng yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Neneng hanya menjawab dengan tertawa katanya, "Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!", Ketika Neneng sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, "Apa sekarang mulai dipijat pak?". Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, "Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!". Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Neneng melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu. Neneng tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya.

Ketika gosokan Neneng sampai di selangkanganku, Neneng membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Neneng berkata "maaf pak, apakah burungnya juga digosok?". Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja. Tanpa ragu Neneng membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Neneng mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak.

Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Neneng, ketika dilihatnya aku memandangnya, Neneng tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Neneng untuk membuka pakaiannya. Neneng yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya. Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Neneng yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu.

Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya,

Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, "Pak saya takut hamil!" Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!". Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu,

Neneng merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Neneng hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan. Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Neneng mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Neneng tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Neneng hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli. Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Neneng sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya.

Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Neneng dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, "Sudah pas pak". Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Neneng dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga..., sleep..., bles..., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Neneng yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Neneng sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Neneng itu. Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Neneng dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Neneng berkata, "Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!". Aku terkejut melihat keberanian Neneng menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini. Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Neneng benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Neneng benar benar sulit dicari bandingannya.

Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Neneng agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Neneng justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Neneng. Saat itu juga Neneng mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Neneng mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Neneng pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku. Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku.

Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Neneng keluar, Neneng sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku. Sekeluarnya Neneng, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak seks.


TAMAT

BEKAS PACAR


Anda mungkin sudah membaca pengalaman seks saya yang ditulis oleh suami saya. Nama saya WR dan sekarang ini saya yang bercerita. Pengalaman seks saya ini masih berkelanjutan. Dengan tidak sengaja saya bertemu dengan eks pacar waktu masih SMA. Inipun karena salah satu teman baru saya kenal baik dengan eks pacarku.

Suatu malam sepulang kita dari kerja, HS menelepon saya dan bertanya apakah saya bisa bertemu dengan dia untuk makan malam. Ah, mengajak saya untuk saya pergi makan malam, kita akhirnya pergi makan di sebuah restaurant di bilangan Sudirman. Tempatnya cukup ramai dan kita duduk disatu sudut dari restaurant itu. Sambil makan kita minum wine, dan ini adalah salah besar karena saya gampang tipsy kalau minum white wine, lumayan juga kita minumnya. Setelah selesai makan, HS bertanya apa saya harus langsung pulang, saya bilang tidak! asalkan tidak terlalu malam. Waktu kita naik lift untuk turun, HS menekan tombol di salah satu floor dan kita keluar menuju salah satu kamar. Rupanya HS sudah check-in lebih dahulu. Di kamar HS langsung mencium saya dan membuka baju saya, payudara saya diremas-remasnya dan ini membuat saya mengelinjang keenakkan. Dia terus mencium dan menjilat puting saya, dikulum dan dihisap-hisap oleh HS. Kemaluan saya sudah terasa basah dan kepala saya sepertinya setengah mengambang karena wine tadi.

HS kemudian merebahkan saya di tempat tidur dan ia melepaskan baju dan celananya. CD saya dilepas juga bra saya, saya sudah telanjang bulat. HS bilang dia senang lihat kemaluan dan rambut kemaluan saya. Saya mempunyai rambut kemaluan yang tebal tapi sering saya rapihkan karena AA senang dengan bulu yang rapih. Kemaluan saya sudah semakin basah, dan HS mulai memainkan jarinya di kemaluan saya, klit saya dielus elusnya dan jarinya masuk ke dalam kemaluan saya. Gerakan jari HS saya sambut dengan menggoyangkan pinggul saya mengikuti irama jari HS. Cairan dari kemaluan saya sampai meluber ke paha dan kena ke sprei. Saya sudah sangat terangsang dan penis HS saya pegang, penis HS sangat kecil di bandingkan dengan penis-penis yang pernah saya rasakan. Tapi apa boleh buat, yang ada sekarang adalah penis HS. Saya berusaha membuat penis HS menjadi keras. Yang penting bisa keras, jadi bisa saya masukkan ke dalam kemaluan saya.

Saya terus mencium HS dan turun keputingnya, saya hisap dan mainkan lidah saya, banyak cowok yang merasa geli dan senang kalau dihisap putingnya, sama saja seperti kita para wanita. HS juga tidak terkecuali, dia menikmati hisapan saya dan penisnya menjadi keras. Perlahan-lahan saya mencium badan HS dan akhirnya sampai juga kepenisnya yang kecil itu, saya hisap dan masukkan semua ke dalam mulut saya. Seluruh penis HS masuk kedalam mulut saya dan mengulumnya sangat mudah bagi saya. HS mengerang dan kepalanya goyang kekiri dan kanan, sepertinya dia senang kalau penisnya saya hisap. AA paling senang kalau penisnya saya hisap, rata rata laki-laki yang tidur dengan saya senang dengan cara saya menghisap penis. AA selalu bilang kalau saya selalu kasih the best blow job. Memang AA sudah tidur dengan beberapa wanita dan beberapa wanita itu saya kenal. Cemburu sih sebetulnya kalau dengar atau tahu AA tidur bersama wanita lain. Rasanya mau marah saja, tapi kalau saya yang tidur dengan laki-laki lain sih lain lagi ceritanya.

HS kemudian menarik saya ke atas sampai badan saya berada di atasnya dan kemaluan saya pas di bibirnya, rupanya dia ingin menjilat kemaluan saya. Saya tekan kemaluan saya ke bibirnya dan saya gosok-gosokkan di atas mulutnya. HS mencoba mencari klit saya, tapi saya punya klit sangat kecil, ini menurut AA, jadi sama dong saya dan HS. Cukup lama HS menjilat kemaluan saya, setelah itu dia merebahkan saya dan naik ke atas badan saya, paha saya dibuka dan penisnya diarahkan ke kemaluan saya, basah sekali kemaluan saya dan saya sudah sangat horny. Kaki saya, saya angkat ke atas bahu HS, ini membuat kemaluan saya terbuka dengan lebar. HS mendorong penis kecilnya ke dalam kemaluan saya dalam satu gerakan, dorongannya sangat keras, kuat dan dalam dalam. Saya berusaha mengecilkan kemaluan saya tapi agak sulit, karena penisnya terlalu kecil dan kemaluan saya sudah dilewati oleh tiga anak dan beberapa penis yang besar. Salah satunya sekitar 13 inchi dengan diameter kira kira 7-8 centi. Tekanan dari penis HS cukup memberi gesekan ke klit saya yang membuat saya tambah terangsang dan basah, beberapa kali penis HS terlepas dari kemaluan saya, terlebih lebih kalau dia mengangkatnya telalu jauh, atau saya menurunkan pinggul saya terlalu dalam.

Satu hal yang saya tidak harapkan adalah keluar dengan penis yang sekecil ini. Penis yang besar saja saya tidak bisa keluar apalagi penis kecil segini saya rasa tidak lebih dari 5 centi. Ternyata gesekan HS membuat darah saya berputar lebih cepat, dan juga dampak dari wine menambah rangsangan ke klit saya, saya merasakan darah saya terpusat dikemaluan saya dan klit saya terasa membengkak, demikian juga kemaluan saya. Tidak lama kemudian saya keluar, pinggul saya dorong ke atas kuat-kuat, waktu tekanan bertambah saya mulai mengeluarkan erangan dan saya peluk HS kuat-kuat sambil bilang ke dia kalau saya akan keluar, tahu kalau saya mau keluar, HS bersemangat, penisnya ditekan keras-keras ke kemaluan saya dan air mata keluar dari sudut mata saya, biasanya kalau saya keluar dengan nikmat saya suka keluar air mata, jadi yang keluar bukan dari bawah saja tapi air mata saya juga menetes keluar. Yang aneh saya nggak pernah merasakan seprerti orang lain cerita kalau banyak sekali cairan keluar dari lubang kemaluan, lebih-lebih kalau laki-laki yang cerita pasti mereka berbohong, memangnya ini penis yang bisa mengeluarkan sperma.

Saya cium HS sambil merasakan gelombang orgasme saya, rasanya nikmat sekali dan sangat menyenangkan, benar-benar di luar dugaan saya. Saya mencoba membuat HS keluar, tapi tidak bisa, akhirnya HS mencabut penisnya dan memasukkan kedalam mulut saya. Kalau AA tahu pasti nanti dia minta saya hisap penisnya setelah masuk kekemaluan saya. Penis HS terus saya hisap dan hisap, ketika HS hampir keluar, dia cabut dan memasukkan kembali kekemaluan saya dan HS mengeluarkan spermanya ke dalam kemaluan saya. Anehnya saya tidak merasakan apa-apa. Biasanya terasa di dinding dalam kemaluan saya. Tapi kali ini tidak terasa apa-apa. Saya tanya apa HS sudah keluar dan dia bilang sudah, memang kalau dia keluar hanya sedikit saja tapi kali ini katanya sih sangat nikmat, malahan yang terenak, saya hanya bisa bilang gombal. Setiap laki-laki yang tidur dengan saya selalu bilang kalau kemaluan saya yang terenak, padahal mereka bilang begitu ke setiap kemaluan yang dia singgahi.

HS kemudian tertidur di dada saya, penisnya mengecil dan lepas dari kemaluan saya. Waktu HS bangun, saya sih nggak bisa tidur sama sekali. HS berusaha untuk memulai kembali tapi sepertinya sih nggak mungkin. HS minta maaf kalau penisnya kecil dan spermanya sedikit. Saya hanya bilang nggak apa-apa. Waktu HS ke kamar mandi, kira-kira jam 9.45 malam saya telepon AA di rumah dan bilang kalau saya baru saja selesai dikerjain oleh HS dan rasanya nikmat, cuma penisnya kecil sebentar lagi saya pulang. Jam 10 malam saya sampai di rumah dan AA sudah menunggu saya pura-pura tidur di kamar, Saya belaga tidak tahu kalau dia cuma pura-pura, saya taruh kemaluan saya di mulutnya dan menekannya ke bibirnya seperti waktu sama HS di hotel. Kemaluan saya basah sekali dan pasti bau sperma dan keringat kita berdua, tapi setahu saya ini yang disukai oleh AA, AA pura pura terbangun dan mulai menjilat kemaluan saya, jarinya dimasukkan ke dalam kemaluan dan pantat saya, dengan mudah AA memasukkan jarinya kelubang pantat saya, karena dari tadi sudah basah karena kemaluan saya.

Saya suka kalau AA memasukkan jarinya kelubang pantat saya waktu dia tidur atau mainkan kemaluan saya. Rasanya nikmat sekali, seperti disetubuhi oleh dua orang. Penis AA kelihatannya sudah keras sekali dan menonjol dari dalam celana pendeknya. Saya keluarkan dan mengelus-elus penis AA, sambil menceritakan apa yang terjadi di hotel tadi. Ini membuat AA tambah buas dan benar-benar menjilat kemaluan saya. Penis AA saya hisap dan melakukan persis seperti apa yang saya lakukan ke HS. AA mengerang dan berusaha menekan penisnya lebih dalam lagi, tapi tidak mudah bagi saya karena penisnya lumayan besar, saya sepertinya masih harus belajar deep throat dulu nih. Setiap AA mengerang saya hisap penisnya lebih keras seperti apa yang saya lakukan ke HS, akhirnya saya pindahkan badan saya dan memasukkan penis AA ke dalam kemaluan saya. Sambil menceritakan bagaimana HS tiduri saya. Cerita ini membuat AA lebih hot dan akhirnya AA bilang kalau dia mau keluar, kita akhirnya keluar bersamaan dan rasanya nikmat sekali, air mata saya juga keluar bersamaan dengan orgasme saya. Hampir setiap kali AA dan saya keluar bareng dan kita selalu menanyakan seenak apa orgasme kita saat itu. Kalau tidak enak kita bisa bilang dengan terus terang tanpa takut menyinggung perasaan partner kita. Inilah keterbukaan antara kita berdua jadi kita benar-benar bisa menikmati seks dengan penuh.

AA memang sangat spesial karena dia bisa menahan cemburu waktu saya tidur dengan orang lain. Jarang sekali ketemu dengan orang seperti dia lebih-lebih orang Indonesia. Saya rasa AA pasti akan nulis lagi tentang saya dengan pria lainnya. OK.


TAMAT

HITAM DAN PUTIH

Namaku Lia. Aku adalah ibu rumah tangga yang telah berumur 35 tahun. Hidupku boleh dikatakan beruntung, aku mempunyai rumah yang megah di Pulomas dan harta benda yang melimpah, sehingga bagiku krisis moneter tak terlalu berpengaruh bagi perekonomian keluargaku. Suamiku, Liem, 50 tahun, mempunyai jaringan bisnis baik di Indonesia maupun di luar negri. Ia adalah pengusaha yang sukses. Walaupun dijejali dengan materi yang melimpah ruah, tetapi kehidupanku rumah tanggaku terasa hambar. Dulu, aku dikawinkan dengan Liem setelah aku menamatkan kuliahku, umurku kira-kira 22 tahun. Aku adalah anak tunggal. Aku tidak terlalu mengenalnya, keluargaku yang menjodohkanku dengannya karena pada waktu itu Liem adalah rekan bisnis ayahku, dan ayahku sangat mempercayainya.

Di awal perkawinan, hubungan suami istri kami hanya sebagai formalitas saja, Liem banyak menghabiskan waktunya di luar rumah, bahkan hingga umurnya yang telah mencapai setengah abad ini, ia masih sering berada di luar. Sedangkan di rumah, sering aku merasa kesepian, karena aku belum juga dikaruniai seorang anak yang bisa mengisi kesepianku. Untuk memenuhi hasrat birahiku, aku sering menonton film Blue. Aku terangsang tiap kali melihat gerakkan penis yang menusuk-nusuk vagina. Uuhh.., aku mulai mempermainkan vaginaku dengan jariku, membayangkan, penis yang panjang dan besar itu, menghunjam keras, menusuk-nusuk liang vaginaku. Suara-suara melenguh, gerakan-gerakan pinggul, ekspresi muka dari masing-masing pasangan yang begitu mendalami kenikmatan bersetubuh. Tak henti-hentinya tanganku memain-mainkan klitorisku..., naik..., turun..., naik..., turun..., sambil berputar..., kugerakkan tanganku dengan cepat, sehingga vaginaku mulai basah dan membengkak.., "aahhkkk..", walaupun penis itu hanya bayanganku saja, tapi sudah terasa nikmat sekali. Kadang, kugoyang-goyangkan pinggulku.

"aahhkkk nikmat sekali..". Sementara, suara ceplak ceplok terdengar dari TV, gaya dog-style.., "aahh..., aahh..., aahh..", bercampur-baur dengan lenguhan-lenguhan nikmat. Aku menikmati segala suara-suara senggama yang keluar dari TV 36 inch-ku itu. "Ssshh..., ssshh..", kugigit bibir bawahku, mendalami khayalku bersenggama dengan penis raksasa, aku merasakan kanikmatan yang makin memuncak. "aahh..., aahh..", eranganku membahana menyamai erangan di TV. Kupercepat gerakan jariku, aku tak tahan lagi, sesuatu akan menyemprot keluar dari dalam liang Vaginaku. "aahhkkk..., ahhkk..., ahhkkk..", otot-otot tubuhku mengejang bagaikan tersetrum listrik ribuan volt. Alam pikirku terbang ke awang-awang meresapi kenikmatan orgasme. "aahh..., aahh..., niikkmaat sekali..", kuhela nafas panjang. Kukira sampai disini saja masturbasiku.

Akibat lama-lama bermasturbasi dengan berkhayal disetubuhi oleh penis raksasa, aku jadi ingin betul-betul merasakan nikmatnya penis raksasa. Tapi, penis siapa..?, Sampai pada suatu hari,pertanyaanku itu terjawab.

Hari itu, aku hendak pergi ke Gym, biasa, Fitness. Untuk mempertahankan tubuhku agar tetap langsing dan kencang. Aku mempunyai supir pribadi yang biasa mengantarku ke Gym, namanya Pak Marlon, orang dari Sorong, Irian Jaya. Pak Marlon ini telah dipercaya menjadi supir pribadi suamiku selama hampir 10 tahun. Kami mendapatkan beliau dari seorang teman. Pak Marlon ini setia menjadi supir keluarga kami, apalagi dengan gaji $500 per bulan, ia selalu dapat diandalkan. Tetapi pagi itu, kudapati seorang anak muda sedang mengelap mobil Mercy-ku.
"Mana pak Marlon..?", tanyaku.
"Pagi bu, maaf, nama saya Rony, saya anak Pak Marlon, hari ini bapak tidak bisa kerja sebab beliau harus menjenguk keluarga kami yang sakit di Bandung, jadi untuk sementara saya gantikan..", katanya dengan sopan.
Hmm.., anak muda ini.., kuperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah.., boleh juga badannya yang gelap dan atletis, tangannya yang kekar, dadanya yang bidang dengan bahu yang lebar. Mukanya..., rasanya aku pernah lihat. Hmm.., mirip seperti Baby Face, penyanyi itu. Boleh juga nih, kataku dalam hati.
"Oke Rony.., kamu bisa antar saya ke Gym..?", tanyaku.
"Bisa nyonya..", jawabnya.

Dalam perjalanan, aku bertanya banyak tentang dia. Ternyata umurnya telah 23 tahun, dan ia sekarang ia telah menyelesaikan kuliahnya di-- (edited by Yuri) jurusan Teknik Sipil. Aku berusaha untuk akrab dengannya. Kadang pada saat aku memulai suatu pembicaraan, aku sentuh bahunya, dia tampak salah tingkah. :)

Sampai di Gym, aku segera berganti baju dengan menggunakan Bicycle Pents yang pendeknya 2-3 senti dari selangkanganku, dan menggunakan baju tanpa lengan yang ketat, menampakkan perutku yang kencang. Dengan pakaian itu, tubuhku yang tinggi (169/52) dan kulitku yang putih (Chinese), serta rambutku yang bergaya Demi More di film Ghost, aku tampak seksi dan sportif. Mulailah aku menjalani latihanku.

Selesai Fitness, dengan masih mengenakan pakaian senamku tadi dan handuk kecil untuk mengelap keringat, aku berjalan keluar Gym menuju mobilku di areal parkir. Rony yang sejak tadi menunggu di mobil, segera berdiri dan membukakan pintu belakang mobil untukku. Lalu aku bilang kalau aku ingin duduk di depan. Dengan cepat ia menutup pintu belakang, kemudian membuka pintu depan. Ketika itu, lengannya secara tidak sengaja menyerempet payudaraku, "Ups.., geli..", ketika lengan itu bersentuhan dengan payudaraku. Kulihat Rony jadi salah tingkah. Aku tersenyum kepadanya. Kulihat ia memperhatikan bagian bawah tubuhku, ketika aku memasukkan kakiku jenjang dan mulus itu, dan pantatku ke dalam mobil dan mendudukkan pantatku di jok. Setelah menutup pintu, ia berlari kecil melalui depan mobil ke arah pintu pengemudi. Dari dalam mobil, kulihat bagian atas celana Rony yang menggembung.

Di dalam mobil, kamipun kembali ngobrol. Agar lebih akrab, kularang ia memanggilku dengan sebutan nyonya, panggil saja Lia. Makin lama obrolan kami terasa makin akrab, kadang aku tertawa, mendengar obrolan-obrolan lucu yang menyerempet-nyerempet, dan dengan gemas kucubit lengan Rony yang berisi itu. Kadang kuperhatikan tangannya yang hitam dan kekar itu memegang kemudi. Sungguh macho. Suatu ketika, Rony membanting stir ke kanan secara tiba-tiba, ternyata, karena keasyikan ngobrol, Rony tidak memperhatikan sepeda motor yang ada di depannya. Ketika itu, tubuhku jatuh ke arah kanan, dan secara refleks, tanganku jatuh tepat di bagian kemaluan Rony. "Upsss..", dalam hatiku. Ketika mobil kembali stabil, tak kulepas telapak tanganku di atas celananya itu. Kutatap wajah Rony yang terlihat grogi, salah tingkah, dan memerah.

Tiba-tiba, muncul keberanianku untuk mengelus-ngelus "terpedo" Rony yang makin lama membengkak itu. Waahh.., seperti memegang lontong saja, pikirku. Setelah beberapa lama kuelus, tanpa bicara, kuberanikan diri untuk membuka relsliting celananya, kusikap celananya. Tampak "terpedo" Rony yang begitu ketat dibungkus oleh celana dalamnya, dengan kepala terpedo yang menyembul ke atas CD, seakan berusaha keluar dari sesaknya bungkusan CD itu. Kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya. Wuuuh.., Gede amat, genggaman jari jempol dan jari tengahku hampir tak saling bertemu dan batang yang sangat keras menegang. Untuk beberapa saat kuelus-elus penis Rony yang besar itu. mmhh..., tiba-tiba birahiku bergejolak. Segera kutundukkan kepalaku ke arah penis Rony, dan kusibakkan CD-nya. Tampak penis Rony yang hitam, besar dan panjang itu dan kelilingi oleh rambut yang lebat dan keriting. Seperti di film BF, kujulurkan lidahku ke "kepala" penis Rony. Kujilat-jilat "kepala" penis yang menyerupai "topi pak tani" itu. Kumainkan lidahku di sekeliling kepala penis itu dan kemudian mengarah ke batang. Kukecup-kecup batang penis yang panjangnya kira-kira 2 telapak tanganku itu.

"Cup.., cup.., cup..", Kudengar desahan-desahan nikmat dari Rony yang masih terus memegang setir itu, dan itu membuatku terangsang. Segera kumasukkan kepala penis itu ke dalam rongga mulutku. Kusedot-sedot penis itu dengan nafsuku yang sudah meletup-letup. mmhh.., Mhh.., sambil kunaik-turunkan kepalaku. Penis itu tidak seutuhnya bisa masuk ke mulutku, hanya 1/3 bagiannya saja. mmhh...,mmhh..., enakk sekali rasanya,seperti anak kecil yang sedang dahaga, dan dibelikan es krim. Itulah yang kurasakan saat itu, aku dahaga akan seks. Terus kusedot-sedot penis itu, sembari kumainkan lidahku dan mulai kukocok batang penis dengan menggunakan tanganku.

ooohh..., nikmatnya merasakan penis raksasa ini. Tiba-tiba aku berfikir, "Hei..! mungkin inilah penis raksasa yang selama ini aku idam-idamkan". Setelah beberapa saat, kulepas penis Rony dari mulutku, dan aku kembali duduk tegak, sementara tanganku masih mengocok penis itu.
"Gimana Ron, Enak?", tanyaku sambil mengatur nafasku yang sejak tadi tidak teratur.
"Enak Lin, Enak banget..!", serunya riang.
Setelah beberapa lama membicarakan apa yang telah kami alami tadi, aku berinisiatif mengajaknya ke kamar apartemenku yang belum laku tersewa. Sebelum memasuki gerbang apartemen yang di jaga satpam, Rony menutup kembali bagian atas celananya yang terbuka tadi.

Setelah tiba di depan pintu apartemen, kubuka pintu apartemen, dan kusuruh Rony untuk menutupnya, sementara aku langsung menuju ke kamar dan menyalakan AC Split. Setelah itu, aku berbalik, dan ternyata, Rony yang telah melepaskan seluruh bajunya langsung merangkulku dan menjatuhkan tubuh kami berdua di Kasur. Di ciuminya mukaku, dari pipi, kemudian ke bibirku. mmghh.., disedot-sedotnya "bibir bawah"-ku dengan gemas, kemudian dimain-mainkan lidahnya ke dalam rongga mulutku yang terbuka, merasakan keenakan permainannya. Sementara tangan kirinya memegangi kepalaku, tangan kanannya beraksi berusaha melepas celanaku dengan susah payah. Kusadari kesulitannya membuka celanaku, kemudian kudorong tubuhnya ke arah kanan, dan aku berdiri sambil melepas baju dan celanaku. Sambil kulihat Rony yang tanpa berkedip melihatku melepas bajuku dengan pelan-pelan sekali, sehingga tampak kemolekan tubuhku yang putih dan masih kencang ini.

Kulihat tubuh Rony yang atletis, dengan bulu-bulu kecil dan kriting di dadanya, bentuk badannya yang berbentu huruf V, dan bagian kemaluannya yang besar itu, menjuntai, menantang, hitam legam, berbeda dengan tubuhku yang putih mulus, tanpa ada suatu cacatpun. Setelah semuanya lepas dari tubuhku, segera kujatuhkan tubuhku di atas tubuh Rony. Kukecup bibirnya yang basah, dan kumainkan lidahku seperti tadi ia memainkan lidahnya. mmhh..., lidah kami saling bertaut, kumasukkan lidahku dan kusedot lidah Rony. mmhh.., Kuelus dadanya yang bidang, kumainkan putingnya. Rony tampak menikmati kegelian permainan tanganku di putingnya. Lalu, kepalaku turun ke putingnya, kujilat putingnya, kuisap dan kadang kugigit kecil puting Rony yang berwarna hitam gelap itu. Rony sekali lagi menikmati permainanku, tangannya mengusap-usap kepalaku dengan gemas.

Setelah beberapa saat, di dorongnya tubuhku ke arah kiri, gantian sekarang, putingku yang merah kecoklat-coklatan di isapnya dengan ganas.
"ooohh..., nikmatnya..., engkau pandai sekali Rony..", putingku di kanan di isapnya, dan dimainkan dengan lidahnya, sementara payudara sebelah kiri di peras dengan tangannya yang kekar itu dan dimainkan putingku dengan jarinya. uuuhh.., bagaikan terkena listrik arus lemah, geli sekali kurasakan..., tubuhku menggelinjang keenakan.

Selama beberapa menit, kunikmati permainannya yang ganas di payudaraku. Kemudian, tangannya yang tadi memegang payudaraku, tiba-tiba beralih mengusap-usap selangkanganku. "aahh..", aku tersentak dan kurasakan aliran darahku bagaikan turun dari kepala. Oh, usapan lembut itu, sudah lama tak kurasakan dari seorang lelaki. Biasanya suamiku (dulu), sebelum menancapkan batangnya, ia mengelus-elus vaginaku dengan lembut, sama seperti yang kurasakan saat ini. Elusan itu lama-lama semakin cepat, memainkan clitoris di selangkanganku. Nafasku terus memburu, mengikuti gerakan jari-jemari Rony yang terus memainkan clitorisku dengan tempo yang makin cepat, sementara mulut Rony belum lepas dari payudaraku yang semakin menegang dan keras.

ooohh..., kurasakan kedahsyatan permainan jari-jemari Rony. "aahh..., aahh..., ahh", desahku begitu dahsyatnya, hingga kurasakan cairan mengalir melalui saluran di dalam kemaluanku. Kucoba kutahan cairan itu keluar. Tapi tak bisa kebendung kenikmatan yang telah meletup-letup itu dan "aahhgg..., aahhggg..., Roonnyy..., aahhgg..., eeennaak", sambil kutahan nafasku, kudalami kenikmatan itu. Kenikamatan orgasme. Wuuufff.., tubuhku yang tadi mengejang berubah menjadi lemas dengan segala peluh di tubuhku, aku berusaha mengatur nafasku sementara, kurasakan kegelian di selangkanganku, kulihat, ternyata sekarang Rony telah mencicipi cairan yang keluar dari liang kemaluanku. Lidahnya menjilat-jilat vaginaku sambil sesekali menyedot-nyedotnya. "Sssrrpp..., sssrrrppp..., seperti tidak mau membersihkan cairan yang tadi keluar dari dalam lubang kenikmatanku. Sambil kurasakan kenikmatan tiada tara itu, pikiranku melayang..., enaknya hidup ini kalau dari dulu aku mengenal anak ini.., aku tidak perlu lagi repot-repot bermasturbasi di depan TV.

Selagi pikiranku melanglang buana, tiba-tiba Rony menimpa tubuhku, dan menciumi mukaku dengan lembut.
"Bagaimana Lia, puas..?", tanyanya sambil tersenyum.
"Wuah.., andaikan kamu dapat merasakan kenikmatan yang aku rasakan sekarang.., tiada taranya.., fantastis!", kataku.., hey, tiba-tiba kusadari penis Rony yang masih mengeras di antara perutku dan perut Rony.
"Ron, kamu belum..?", belum selesai aku berkata, kembali bibirnya memagut bibirku.

mmhh, dan kurasakan badannya agak ditinggikan, kemudian tangannya diarahkan ke bawah, dan tiba-tiba kurasakan benda yang keras menyumbat mulut vaginaku. Aku mengerti maksudnya. Kunaikan kakiku, merangkul pinggangnya. Sementara, mulut kami masih saling bertaut, dengan tangannya, ia memainkan kepala penisnya di mulut vaginaku. Birahiku kembali muncul atas perlakuan yang demikian. mmhh..., aku sudah tak sabar ingin merasakan kenikamatan penis raksasa itu.., kataku dalam hati.

Tapi Rony masih saja mempermainkan penisnya, dan itu membuatku menggelinjang kegelian dan perasaanku sudah tak sabar. Kulepaskan pagutan bibirnya.
"Ron..., ayo.., langsung aja", kataku dengan nafas yang tidak teratur lagi. Kemudian dengan tangannya, ia meraba-raba vaginaku untuk mencari dimana "lubang surga dunia" itu berada. Setelah menemukannya, segera ia tusukkan kepala "terpedonya" ke lubang itu. Begitu pinggulnya menekan dengan keras, secara refleks (karena sakit..) pinggulku terdorong ke depan.
"Ahh.., Ronn.., pelan-pelan dong..", kataku sambil meringis.

Kemudian dicobanya lagi kepada penisnya dicocokkan ke lubang vaginaku. Kali ini ia mencobanya berhati-hati dan pelan. "ooohhggg.., ooohhgg..", kepala terpedo Rony terasa menyesaki lubang kemaluanku, aku mencoba menahan rasa sakit.., rasa sakit yang telah lama tak kurasakan. Kemudian sedikit demi sedikit, "lontong kulit" itu masuk ke dalam liang Vaginaku..., sampai akhirnya. "Bleeesss..", masuk semua.. "Ooohhggg", kurasakan kenikmatan..., fantastis..., seluruh batang penis Rony memenuhi liang Vaginaku.
"Goyang Ron..", pintaku. Langsung, Rony menggoyangkan pinggulnya, keluar.., masuk.., keluar.., masuk.., "Ooohhggg.., ooohhggg.." sungguh nikmat, teringat aku akan film BF yang aku tonton dulu. Goyangan pinggul Rony kubarengi dengan goyangan pinggulku, sehingga terasa penis Rony menggesek-gesek dinding vaginaku yang rasanya membengkak, sehingga bisa menyedot semua batang milik Rony.

Kurasakan saat itu bukan hanya tubuhku yang bergetar, kasurpun ikut bergetar akibat dorongan pinggul Rony yang kuat, terus menghunjam-hunjamkan penis raksasanya ke liang vaginaku. Desahan-desahan kenikmatan dari kami berdua bersahut-sahutan. "Aahhgg..., aahhggg..., aahhggg", kadang kugigit bibir bawahku saking nikmatnya permainan kami. Aku teringat akan film BF yang aku tonton, dan aku minta kepada Rony untuk mencoba gaya standing-bamboo. Kali ini, aku berada di atas, dan Rony tidur di bawah. Dengan mudah penis Rony dapat masuk ke liang Vaginaku, dan akupun mulai bergerak naik turun. Rony mengimbanginya gerakanku itu..., "Ooohh nikmatnya", melihat payudaraku yang bergerak-gerak seiring pergerakan tubuhku, tangan Rony kemudian memegangi kedua payudaraku, dan meremas-remasnya. Sementara itu.., aku merasakan kenikmatan klimaks sudah dekat, aku terus menggenjot dengan cepat.., aahh.., aahh.., aahh.., trusss", Rony dan aku saling mendesah, hingga akhirnya aku merasakan kembali tubuhku mengejang, tanganku mencengkram seprei dengan kuat dan sekali lagi aku mencapai orgasme.

"aahhggg.., aahghggg.., aahgg", aku mengerang dengan lantang. Sukmaku kembali melejit ke langit ke tujuh.
"ooohh.., Rony, engkau memang jagoanku", Belum habis aku menikmati dahsyatnya orgasme keduaku, Rony memintaku untuk menungging, dan kemudian ia mulai menusukkan penisnya dari belakang. "ooohh.., Oohh..", aku kembali merasakan kenikmatan bersenggama, suara desahan kami berdua kembali mengalun dibarengi dengan suara "ceplok-ceplok.., plok.., plok.., plok..".

Rony makin mempercepat hunjaman penisnya ke vaginaku, tempo permainan semakin cepat. Kudengar suara desahan Rony semakin keras dan pada akhirnya ia melenguh keras, seperti suara orang menahan sesuatu dibarengi dengan dihunjamkannya kuat-kuat seluruh penisnya ke dalam Vaginaku.
"aahhggg..., aahhggg.., aahhggg.."

Akhirnya..., ia mengalami orgasme. Segera kubalikkan tubuhku, dan kuisap-isap kepala penis serta kukocok-kocok batangnya, mencari sisa-sisa sperma yang dimuntahkan penis Rony, hingga akhirnya tak tersisa sama sekali, dan Rony tergeletak lemas.

Sejak saat itulah aku menemukan kenikmatan seks sejati. Sementara dengan suamiku, hubungan kami bertambah dingin, dan kukira ia tak menghiraukan akan hal tersebut, ia masih menyibukkan dirinya dengan kegiatan di luar rumah, ia tak menghiraukan lagi keindahan tubuh istrinya yang haus akan hunjaman-hunjaman kenikmatan. Frekwensi hubungan seks-ku dengan Rony makin bertambah sering, walaupun sekarang Pak Marlon telah kembali menjadi supir keluarga kami, Rony kubekali dengan HP, yang sewaktu-waktu bila keinginanku untuk "ditusuk-tusuk oleh terpedo" Rony muncul, aku bisa langsung menghubunginya, dan bertemu di apartement (yang hingga kini, apartement itu tidak aku sewakan, dan menjadi tempat rahasia kami untuk bercinta).


TAMAT

CEWEK OKE


Ini adalah pengalaman waktu saya baru kerja di daerah kuningan. Saya masih ingat waktu itu awal April 1999, Jam sudah menunjukan jam 12.30 siang. Saya pergi ke tempat makan siang yang rada sepi. Pas sehabis lihat-lihat menu siang, saya lihat ada perempuan yang oke punya. Tingginya sekitar 170 cm, pakai sepatu yang haknya 7 cm. Rambutnya yang lebat di cat merah, panjangnya sepinggang. Bodinya yang molek juga motul (montok betul) dan kulitnya yang putih bersih, terbalut dengan setelan warna cyan, serta bajunya yang modis pakai belahan dada V yang menyiratkan buah dadanya yang penuh dan pakai rok mini. Yang menambah bikin nafsu kita saja kalau melihat pahanya yang mulus dan betisnya yang panjang.

Yang terbayang sama saya waktu itu bodinya yang menggiurkan dan payudaranya yang besar. Bayangkan ini perempuan ukurannya 36D 24 32, saya tegur itu perempuan, saya tanya ke dia, "Makan sendiri saja?" Dia tersenyum manis sekali, "Iya", katanya, saya lihat matanya yang kelihatan ngesex sekali mengerling genit sambil senyum-senyum simpul penuh arti. Saya balas senyumnya. Sambil mengenalkan diri ke dia. Oh iya, namanya Katryn (nama samaran).

Lantas kita duduk makan siang sama-sama. Dia duduk di seberang saya, kita duduk berhadap-hadapan, dari hadapannya saya bisa mengintip ke isi belahan buah dadanya. Dia tambah salting saja sambil tersenyum risih menyadari pandangan saya yang nggak lepas-lepasnya dari dia punya barang. Pembicaraan kita masih biasa-biasa saja.

Tiba-tiba saya merasa di betis kaki saya sudah ada yang mengusap-usap lembut sekali, dan terus ke atas sampai ke ruitsluiting celokan saya, pas saya lihat, gila.. nih kaki telanjangnya sebelah kanan yang putih mulus sudah menyebrang sampai di atas "penis" saya. Kemudian pembicaraan kita beralih ke hal-hal yang menjurus-jurus dan berbau seks dan menyimpang.
Ngobrol punya ngobrol, sudah jam 02.30 siang, saya pikir wah kalau balik ke kantor nggak mungkin, mending sekalian saja baliknya besok.
"Habis ini mau kemana?" tanya saya.
"Nggak tau nih.. habis lunch saya bebas sih sampai selesai cuti."
"Loh napa cuti?" tanya saya.
"Iya bosen sih kerja rutin terus nggak ada variasi", katanya.
"Cuti berapa hari?" tanyaku.
"Yah 2 hari saja, besok sama lusa", jawabnya.
"Kebetulan nih", pikir saya.
"Kita check in saja yuk!" katanya."
"Apa sih?" kata saya belaga bego.
"Sudah ikut saja", sahutnya cepat-cepat.

Dalam perjalanan dan di sela-sela lampu merah kita berdua beraksi, dia menuntun tangan saya untuk membelai-belai CD dan bra-nya sedang dia selalu melumat-lumat bibir dan mengulum-ngulum lidah saya.

Akhirnya kita check-in di hotel "S" di bilangan segitiga emas Jakarta memakai KTP Nasional saya, setelah beres urusan check in, kita masuk ke kamar. Katryn bilang bahwa dia mau mandi dulu, terus saya tahan dia, saya bilang, "Nggak usah ah!, lama nanti..!" kata saya. Sambil memeluk Katryn serapat-rapatnya saya peluk dia erat-erat dan saya kecup serta mendaratkan ciuman-ciuman ke bibirnya yang merah basah. Katryn juga nggak kuasa buat menahan ciuman saya lama-lama, Katryn balas ciuman saya. Katryn pagut lidah saya dalam-dalam sementara tangannya melingkar di leher saya. Lantas saya pegang payudaranya yang hangat, dia tersenyum hangat dan menekan tubuhnya ke tubuh saya hingga buah dadanya yang tergencet menyembul keluar, "Suka khan?" katanya sambil memainkan dan melepaskan kancing-kancing bajunya, dengan tangan gemetaran saya bantu dia untuk melepas kancingnya satu per satu. Kaus dalam putihnya saya lepaskan sampai tinggal bra-nya yang tipe cup, saya rengkuh sekali gasak lepas sampai itu payudaranya yang besar, mancung dan kencang menantang lepas bebas, lantas saya remas-remas payudaranya sampai Katryn belingsatan keenakan.

Saya jilati puting payudaranya yang berwarna pink kecoklatan dan semakin lama semakin mengeras, saya tinggalkan cupang sebanyak-banyaknya, di kiri kanan payudaranya yang kenyal dan di perut dan pusar, lantas sambil cium-ciumi mengarah ke bawah, saya ploroti roknya hingga tinggal CD-nya yang berwarna merah darah, saya ciumi CD-nya. Saya lihat mukanya yang sudah merah, sekali-sekali saya lihat Katryn sudah menelan air liurnya tanda nafsunya sudah naik.

Katryn sudah tidak sabar untuk melepas semua kemeja saya, Katryn merenggut kerah saya sampai kancing-kancing kemeja saya hampir lepas semuanya. Sambil ciuman dia lepas underwear dan buka belt celokan saya. Saya juga buka ritsluiting celokan saya. sampai kita berdua sudah bugil.

Saya bopong dia ke atas tempat tidur sambil meneruskan ciuman saya dan mengulum bibir dan lidahnya yang terasa nikmat di mulut. Dia dorong badan saya ke atas spring bed, kemudian dia menjilati seluruh atas badan saya, saya merasa kegelian dijilat-jilat dan dicium-ciumi kayak gitu. Geli ah...!

Saya ambil inisiatif, saya cumbu dia mulai dari bibirnya yang basah, tangan saya mulai mengelus-elus ke pinggulnya, jari-jari saya mulai membelai-belai vaginanya, pas sampai di clit-nya dia menggeliat, kejutan ini membuat saya tambah terangsang melihat nafsu berahinya yang sudah menggebu-gebu karena bibir dan liang vaginanya sudah mulai basah dan hangat waktu saya tekan-tekan jari-jari saya ke dalam liang vaginanya, dia merem melek menikmati cumbuan-cumbuan saya di bibirnya. Semakin lama jari-jari saya semakin cepat bergerak-gerak membelai-belai bibir dan liang vaginanya, terus dia mengangkat-angkat pantatnya menyambut ketrampilan jari saya. Dia merintih-rintih, "Aahhnnggh.. huuahhngghh... sudah.. sudah.. saya sudah nggak tahan.. pakai penis kamu saja... cepet ngentotin saya dong..." katanya. Kasihan juga saya melihatnya. Akhirnya saya masukan penis saya perlahan-lahan ke dalam liang vaginanya yang sudah licin, "Oh nikmat banget..", katanya. Saya teruskan penetrasi saya ke liang vaginanya, "Uhmm sempit amat nih vagina", pikir saya. "Ayo dong masukin yang dalam..", dia mendesah sambil menahan napas, tangannya terus menjaga dan membimbing "penis" saya berlabuh di vaginanya. Saya senggamain nih perempuan dan saya merasa ini vagina becek sekali. Kalau penetrasi licin begini saya tambah speed, goyangan saya semakin kencang, dia membalas iramanya dengan mengiringi goyangan saya. "Oh, augh genjot terus, yang keras dong.." katanya saya dengar desahannya. "Owhh... hhahh... nghhahh goyang yang keras! hhahh ennnakkkhh... mmhh enakkkh..."

Terus Katryn bilang, "Mau spank nggak?" katanya. "Apa tuh", kata saya. Katryn membimbing saya mencabut penis saya dari vaginanya terus dia jepit penis saya pakai payudaranya yang besar, terus dia bekap payudaranya di antara penis saya di sela-sela payudaranya. "Sudah, goyang dong..." katanya saya langsung mengerti maunya dia apa, langsung saya tarik dan sodok penis saya di sela-sela payudaranya yang kenyal dan hangat. Pas penis saya mau dekat ke mulutnya, dia jilat-jilati kepala penis saya, ih merinding saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. "Oooh! Yeaach...!" dia menggelinjang-gelinjang keenakan. Saya minta dia sekarang yang di atas, "Yeah this is it, this is all i want i want to get on top of you", katanya. Akhirnya dia berjongkok dan nangkring tepat di atas penis saya, perlahan-lahan dia pegang penis saya dan dia tembak tepat di lubang vaginanya, perlahan-lahan pinggulnya mulai bergoyang-goyang hebat. Dia putar-putar pinggulnya seperti sekrup. Katryn memang ahli kalau bersetubuh dari atas. Dia terus goyang naik turun membuat nikmat penis saya, lantas dia mulai mencumbu dan mengulum bibir saya. Wah, rasanya nikmat banget, sampai saya rasanya sudah mau keluar terus saya tahan saja sedikit. Saya jambak rambutnya yang panjang dan saya tarik sampai bisa saya remas payudaranya yang besar. Geli juga waktu rambutnya yang panjang kena tangan saya, lantas saya singkap rambutnya ke samping dan ke belakang sambil membelai-belai rambutnya ke belakang. Lantas dia mainkan sendiri nipplenya, dia tarik-tarik seperti catapult, sedang saya mengelus-elus punggung dan pantatnya yang halus. Di sela-sela rambutnya yang terurai berantakan dan peluhnya yang sebesar jagung.

Dia bergoyang terus, lalu dia bilang, "Capek ah di atas", Katryn cabut vaginanya dari penis saya yang menancap tegak lurus, kemudian pelan-pelan Katryn mengelus-elus penis saya yang sudah mulai menegang, terus dia kocok pelan-pelan penis saya pakai tangannya yang putih montok terus dia kocok-kocokan sampai penis saya sudah berdiri tegak, sebentar-sebentar dia genggam, kemudian dia cium-ciumi penis saya, nggak lama kemudian dia mulai mengulum-ngulum batang penis saya. Ehmm... nikmat memang kalau memainkan mukanya yang cantik, tapi rambutnya yang panjang menjuntai-juntai terurai bebas kena penis saya, membuat saya tambah terangsang dan kegelian. Dia ludahi penis saya, "Saya suka penismu, boleh kan saya jilati bijinya.." lantas dia mulai mengulum-ngulum biji-biji balon di bawah batang penis saya, terus dia gigit-gigit kecil. Gigitannya yang kecil-kecil ini yang membuat saya meringis kenikmatan campur kesakitan yang bikin saya takluk sama dia.

Terus Katryn ganti posisi doggy style, menunggu penis saya masuk ke vaginanya, akhirnya pelan-pelan dia bimbing penis saya masuk ke vaginanya. Saya dorong penis saya maju mundur, "Terus dong tekan, jangan berhenti" katanya. Saya goyang terus keenakan sambil terus saya elus-elus pantatnya, wah ini pantat bulat sekali, saya suka melihat ini pantat menari-nari indah, merasa keenakan pakai penis saya. Di depan mata saya saya lihat ada lubang lagi di atas vagina yang saya sodok, saya selipkan saja jari-jari saya di lubang itu. Saya lihat dia diam saja, dia merintih kenikmatan dan dia terus mendorong-dorong pantatnya ke belakang dan naik turun membuat saya merasa mau keluar lagi, buru-buru saya cabut penis saya dari lubang vaginanya, dia kaget. Sebelum dia berbicara apa-apa, saya cumbu dan kulum bibirnya sehingga dia yang merasa clit-nya yang sudah mulai horny lagi dia masih minta di teruskan doggy style-nya karena belum tuntas.

Katryn mendesah-desah kencang sekali. Saya bilang, "Ganti posisi yah..?" akhirnya kami sepakat lewat anal, saya mengambil inisiatif memindahkan penis saya to her ass hole. pelan-pelan saya masukan, penis saya to her ass sambil saya remas-remas pantatnya yang bulat dan sekal. Saya lihat dia memejamkan mata merasakan penis saya di lubang ass-nya. Dia sudah nggak sabar mulai menggerak-gerakan pinggulnya ke arah penis saya, saya sodok lubang ass-nya semakin lama semakin kencang goyangan dan sodokan saya, saya goyang pinggul saya ke kiri dan ke kanan, dia juga berbuat yang sama mengikuti irama persis seperti saya. Saya remas-remas lagi buah dadanya yang kenyal, dia menjerit "Auhgh, sialan!" Wah, dia kenapa nih? Saya cubit putingnya keras-keras, "Ooowhh... goyangin terus, cepat, jangan berhenti" katanya. Saya pikir saya nggak mau lama-lama main di ass karena bisa-bisa saya ketagihan. Saya cabut penis saya lagi dan pindah ke vaginanya dan melanjutkan doggy style, saya goyang semakin lama semakin kencang, dia juga balas tambah kenceng. Dia minta goyang yang keras dan kasar sampai dia merasa kesakitan. Saya turuti apa maunya. Makin lama goyangan kita semakin kencang, "Gue mau keluar..." saya berbisik bilang ke Katryn.

Tiba-tiba dia berhenti terus mencabut vaginanya dari penis saya, sampai saya kaget, "Tenagnaja kita keluarin barengan", saya terkejut mendengarnya, "Gila nih cewek... maniak seks kali ya? kamu nggak takut kena penyakit apa gitu..?" tanya saya. Katryn bilang biar awet muda dan supaya kulitnya jadi halus katanya. Saya sih antara percaya dan tidak percaya saja, mungkin cuma alasan dia untuk menelen sperma saja, pikir saya, "Dasar! kebanyakan makan sperma, nyaho nanti kamu?" saya ingatkan ke dia. "Biar saja.., kamu suka ngeliatnya khan?" dia balik bertanya. "Iya juga sih", sahut saya. "Sudah diem kamu!" katanya sambil melanjutkan nafsunya buat menghisap penis saya yang masih tegak dan kepingin keluar. Saya bantu dia dengan menekan-nekan kepalanya. Saya lihat dia dengan tekun menambah nafsu saya sampai ke ubun-ubun. Saya lihat kepalanya yang naik turun dengan indah menghisap-hisap penis saya yang sudah hampir meledak-ledak, dengan bibirnya yang semakin cantik kalau lagi kembang-kempis, dia hisap sambil sekali-sekali menjilat-jilat pinggir batang penis saya pakai lidahnya yang liar dan ganas. Ini memang pemandangan indah yang tidak bisa dilupakan. Saya belai-belai saja rambutnya, sementara dia lagi sibuk menekuni penis saya.

Tiba-tiba penis saya tambah menegang dan crottt... Crott... sperma saya muncrat di dalam mulutnya, terasa sperma saya mengalir di dalam mulutnya. Pasti benar ada yang Katryn telan, terus dia membuka mulutnya sambil menunggu sperma-sperma saya mendarat di ujung lidahnya, setelah selesai muncrat lalu dia menjilat-jilat kepala penis saya sampai bersih sekali hingga tinggal sisa-sisa cairan ludahnya saja yang menempel. Mukanya yang sudah memerah dan ngesex sekali membuat saya tambah nafsu lagi sama dia, saya sodok-sodok saja penis saya ke mukanya lagi, saya dorong-dorong saja kepalanya terasa dengusan napasnya yang terengah-engah yang hinggap di batang penis saya.

Setelah itu Katryn minta gantian supaya dihisap clit-nya sama saya, maksudnya jadi posisi 69. Mulai sudah saya jilat-jilati clit-nya pakai ujung lidah saya, nggak kebayang deh rasanya, terus saya cium-ciumi vaginanya, memang ada baunya yang khas, "mmhmmh.. nikmat sekali bikin gue ketagihan" Saya mulai makan vaginanya saya gigit-gigit kecil. Katryn kelihatan mulai sempoyongan dan mulai menjerit-jerit keenakan, "Huuaahh..." jeritannya yang keras membuat saya tambah nafsu dan kemudian saya percepat gerakan lidah saya yang menjilat-jilat clit-nya, semua clit-nya yang sudah basah membanjiri vaginanya habis saya jilat, "Eennggghh.. hhnggg... haannggghh!"

Kemudian Katryn berhenti dan minta penis saya dimasukan lagi ke vaginanya. Saya menurut saja, padahal penis saya sudah mau relaks. Dengan susah payah kita berdua berusaha memasukan penis saya ke vaginanya. Setelah berhasil, dia mencoba menggoyang-goyangkan pinggulnya sedikit tapi akhirnya saya diamkan saja, dia kerja keras sendirian sampai dia lemas sendiri tapi dia tidak mencabut vaginanya dari penis saya. Saya juga begitu, habis rasanya "nikmat" sih. Jelas kita sepakat mempertahankan "status quo" seperti begini penis saya di vaginanya, vaginanya di penis saya. Tidak lama kemudian badan dan penis saya sudah lemas, tapi dia masih nafsu saja sama saya, akhirnya saya minta istirahat sambil cium-ciuman sama dia. Dia mengulum bibir saya lama-lama, terus saya juga membalas sambil memainkan lidah kita berdua, benar-benar mengasyikkan.

6 menit kemudian penis saya mulai menegang lagi, dia teriak kegirangan, "hhaahh, dia minta spank lagi. Terus saya tindih badannya, saya di atas dia di bawah. Gerakan dan goyangan kita semakin lama semakin kencang, tidak lama kemudian saya mulai terasa mau keluar lagi, "Gue mau keluar lagi.." "Keluar lagi?" tanyanya sambil mengerling genit ke saya, terus Katryn bilang ke saya Hun, "Gimana rasanya, nikmat kan.." "Maksudmu?" saya tanya ke dia, "Enak banget, sedot yang kuat dong.." saya menyahut. Saya pikir, "Oke deh kalau itu maumu..." Katryn berhenti lagi, lalu dia menghisap dan melahap habis penis saya sambil dia mengkocok-kocok penis saya. Saya bilang ke dia, "Stop, I'm cumming..." saya cabut penis saya dari mulutnya yang rakus, saya kocokan penis saya sampai mau keluar saya keluarkan sudah sperma saya di atas breastnya yang bulat dan montok sekali. Itu sperma muncrat dan mendarat di mukanya, membasahkan semua mukanya, leher, rambut, dada, dan nipplenya. "Wow, banyak banget..." katanya terus dia gosok-gosokan sperma-spermanya pakai tangan ke seluruh badan, terus dia jilat-jilati tangannya sambil senyum-senyum kesenengan. Dengan muka kemerah-merahan

"Saya suka penismu!" katanya. Saya rasa Katryn mengalami multiple orgasme sama saya.

Katryn bilang bahwa dia suka saya, kemudian dia lebih suka memanggil nama saya Steve (bacanya sih Stiff)!


TAMAT